DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 10:23 WIB

Setya Novanto Dua Kali KO dalam Sehari

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Setya Novanto Dua Kali KO dalam Sehari Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Jakarta - Setya Novanto bak menerima dua 'pukulan' telak dalam sehari pada Rabu (13/12) lalu. Pukulan itu ialah dirinya yang ditetapkan sebagai terdakwa dalam kasus mega korupsi e-KTP serta jabatan Ketua Umum Golkar digantikan Airlangga Hartarto.

Novanto duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (13/12). Novanto yang sempat menjalani pengadilan praperadilan akhirnya berhasil ditetapkan menjadi terdakwa dalam kasus e-KTP tersebut.

Novanto tiba di pengadilan dengan penampilan yang tampak berantakan dan pucat. Dalam pengadilan tersebut, jaksa pada KPK membacakan pertemuan demi pertemuan yang dihadiri Novanto. Di setiap pertemuan itu, Novanto bersiasat untuk mengintervensi proses penganggaran dan pengadaan barang dan jasa proyek e-KTP.

"Terdakwa baik secara langsung maupun tidak langsung melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang jasa paket Pekerjaan Penerapan KTP Berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) Secara Nasional," ujar jaksa penuntut umum pada KPK membacakan surat dakwaan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat.

Di persidangan, beberapa kali sidang diskors karena Novanto. Novanto beberapa kali izin untuk pergi ke kamar kecil karena mengaku menderita diare.

Pengacara Novanto, Maqdir Ismail, sempat meminta agar Novanto dapat diizinkan pergi ke rumah sakit untuk diperiksa. Namun dokter dari pihak KPK dan Ikadan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan kondisi Novanto sehat untuk mengikuti sidang.

Novanto sendiri dituding berkomunikasi dengan pihak kontraktor e-KTP dengan oknum anggota DPR untuk ikut mengatur proyek dari e-KTP tersebut. Atas perbuatannya, Novanto dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Novanto didakwa mengintervensi proses penganggaran dan pengadaan barang dan jasa proyek tersebut. Novanto juga disebut menerima duit total USD 7,3 juta.

Duit itu berasal dari konsorsium yang memenangi proyek e-KTP itu. Uang dikirim ke Novanto melalui tangan orang lain yaitu Made Oka dan keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Usai persidangan, DPP Golkar langsung menggelar rapat pleno membahas agenda munaslub guna mencari ketum baru Golkar. Rapat pleno diadakan di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, pada Rabu (13/12) malam.

Airlangga Hartarto, Idrus Marham, Ketua DPP Aziz Syamsuddin, dan Bendum Golkar Robert J Kardinal ikut menghadiri rapat pleno tersebut. Dalam rapat tersebut mayoritas peserta rapat pleno Golkar mendesak dilaksanakannya musyawarah nasional luar biasa (munaslub) paling lambat 19 Desember 2017. Ada lebih dari dua pertiga peserta yang menggalang tanda tangan.

"Yang hadir 232, yang tanda tangan 157. Jadi 67 persen," ujar Wasekjen Golkar Ace Hasan kepada wartawan.

Dalam rapat pleno Golkar telah memutuskan memberhentikan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar. Sebagai penggantinya, Airlangga ditunjuk sebagai Ketua Umum Golkar secara aklamasi. Jabatan Airlangga kemudian akan disahkan pada Munaslub digelar pada 19-20 Desember 2017 nanti.

Wasekjen Korbid Kepartaian Sarmuji mengatakan rapat berjalan cair. Pihak-pihak yang sebelumnya menolak munaslub akhirnya menyerah dan ikut menyetujui penunjukan Airlangga sebagai ketum.

"Sekarang sudah selesai. Pembacaan kesimpulan, Aziz (Aziz Syamsuddin) menyerahkan kepada Pak Airlangga," ujar Sarmuji.

Airlangga yang terpilih menjadi Ketum Golkar mendoakan Novanto yang kini sudah menjadi terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP. "Khusus mantan Ketum Bapak SN (Setya Novanto), kami semua mendoakan agar beliau diberi kekuatan dan mendapatkan apa yang terbaik," ujar Airlangga seusai rapat pleno di kantor DPP Golkar.

Airlangga juga menyatakan Golkar siap memberi bantuan kepada Novanto. Golkar sejak awal memang sudah menyatakan siap memberi bantuan hukum kepada Novanto dalam menghadapi kasusnya.

"Kami dari partai akan memberikan bantuan yang diperlukan Bapak SN beserta keluarganya," tutur Airlangga.
(fdu/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed