"Di kamarnya Pak Anies lebih canggih dia. Karena dia bawa termometer sendiri, dia set 25 (derajat). Begitu ada dingin, dia nelepon biro umum suruh matiin. Kalau di sini (ruangan Anies) nggak ada masalah. Dia bisa matiin di sini aja. Kalau di atas (ruangan Sandi) saya matiin, satu section kan terdampak. Dan belum tentu yang di atas itu sesuai dengan preferensi suhu yangg saya punya. Jadi ya udah saya ngalah, namanya juga orang baru," kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017).
Terkait penggunaan AC tersebut, Sandiaga Uno tengah mengkaji rencana untuk menghemat energi di Balai Kota. Sandi mendapatkan laporan tagihan listrik di Balai Kota bisa ditekan hingga Rp 3,6 miliar pertahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Sandiaga Uno ingin menghemat biaya listrik kawasan Balai Kota. Pemprov DKI akan bekerja sama dengan PT Azbil Berca Indonesia membuat sistem yang dapat mengontrol penggunaan listrik.
Keinginan menghemat biaya Balai Kota berdasar dari pengalaman Sandiaga yang merasa kedinginan saat berada di Balairung. Namun, suhu pendingin atau AC ruangan tak bisa disesuaikan dengan cepat karena menggunakan sistem sentral.
"Tapi pengalaman saya waktu masuk ke Balkot 16 Oktober, di hari kedua 17 Oktober saya merasa kedinginan sekali karena AC-nya dingin sekali. Untuk dikurangi itu memerlukan waktu karena AC-nya sentral," ungkap Sandi saat jumpa pers di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (24/11).
Berawal dari pengalaman itulah muncul keinginan untuk menghemat energi Balai Kota. Lalu, Sandiaga mengontak pihak PT Azbil Berca Indonesia.
"Jadi, saya menghubungi teman-teman di Azbil. Saya bilang, bisa nggak kita lihat kemungkinan diaudit penggunaan energi di Balai Kota karena kita ingin penghemataan," papar Sandi. (fdu/jbr)











































