Bagaimana peluang Titiek Soeharto memimpin Golkar?
Sejumlah pihak meragukan peluang salah satu putri kinasih Cendana itu bisa merebut kursi Ketum Golkar. Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya memprediksi, Titiek akan sulit meraih simpati jika tidak melakukan silaturahmi ke pengurus daerah Partai Golkar. Pertemuan dengan DPD Partai Golkar diperlukan sebagai pembuka tawaran kepada pengurus saat Pilkada serentak 2018 atau pemilu 2019 nanti.
"Kepentingan terdekat kan di pileg (pemilu legislatif) dan pilkada. Kalau mbak Titiek tidak melakukan silaturahmi ke pengurus DPD, sulit meraih simpati," kata Yunarto saat dihubungi detikcom.
Ia menyayangkan langkah Titiek bertemu dengan para mantan menteri di era Orde Baru pada Sabtu (9/12/2017) lalu. Sebab mereka bukan pemilik suara di Golkar.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan menyebut saat ini dukungan untuk Airlangga adalah paling kuat di antara ketiga nama calon. Namun dia menghargai sikap Titiek Soeharto yang ingin maju di pemilihan Ketum Golkar nanti.
"Kita lihat sendiri dukungan terbanyak sudah ke Airlangga jadi tidak mudah untuk itu. Bahwa kita menghargai keinginan Titiek untuk maju, tapi DPD I, II kelihatannya sudah menentukan sikap," kata Jusuf Kalla, Selasa (12/12/2017).
Pasca Soeharto lengser pada 1998, harus diakui langkah politik keluarga Cendana tak begitu cemerlang. Trah Soeharto sempat puasa di panggung politik, lalu mulai bangkit pada 2002. Ketika itu Siti Hardijanti Indra Rukmana (Mbak Tutut) mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) R. Hartono yang juga orang dekat Cendana didapuk sebagai Ketua Umum. Namun PKPB yang didirikan sebagai kendaraan politik Tutut di Pilpres 2004 gagal menempatkan satu pun wakilnya di parlemen.
Lima tahun kemudian giliran Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) mencoba peruntungan dengan maju pemilihan calon ketua umum Partai Golkar di Munas partai itu yang digelar di Riau. Di ajang ini, tak satu pun yang melirik Tommy.
Trah Cendana tak putus asa. Tiga tahun setelah kegagalan Tommy, yakni 2012 Siti Hediati Harijadi alias Titiek Soeharto bergabung dengan Partai Golkar. Di Pemilihan Legislatif 2014, Titiek maju sebagai Caleg dari daerah pemilihan Yogyakarta.
Dibantu kakak sulungnya, Mbak Tutut, dia berkampanye di Yogyakarta dengan 'menjual' sejumlah prestasi Soeharto saat memerintah. Salah satu yang paling menonjol soal isu harga sembako yang murah.
"Kalau saya tanya piye kabare, kalian jawab enak zamanku, ya," ajak anak ke-4 Soeharto itu kepada massa di Lapangan Degung, Jalan Magelang, Yogyakarta, 29 Maret 2014.
"Piye kabare?" tanya Titiek. "Enak zamanku," begitu jawab massa.
Rupanya dengan mengusung slogan, "Piye Kabare?", Titiek sukses meraup dukungan 80.121 dukungan suara dan terpilih sebagai anggota DPR RI. Dia kemudian ditempatkan sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian dan kehutanan. Di Munas Partai Golkar 2014 yang memilih Aburizal Bakrie (Ical) sebagai ketua umum, Titiek didapuk menjadi Wakil Ketua Umum.
Saat Setya Novanto terpilih sebagai Ketua Umum di Munaslub Golkar Mei 2016 lalu, Titiek diangkat sebagai Wakil Ketua Dewan Pakar.
Tentang niatnya maju memperebutkan kursi yang dipastikan bakal ditinggalkan Novanto, Titiek menyatakan hal itu demi memajukan Golkar. "Tapi nanti kita lihat bagaimana perkembangannya. Kita juga harus lihat realitas nanti di lapangan bagaimana," kata Titiek. (erd/jat)











































