Menkes, Anies hingga Imam Istiqlal 'Kampanyekan' Imunisasi Difteri

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 12 Des 2017 09:05 WIB
Foto: Menkes dan Anies mensosialisasikan imunisasi difteri di SMAN 33 Jakarta. Fotografer: Muhammad Fida Ul Haq
Jakarta - 11 Provinsi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat difteri. Puluhan orang meninggal dunia terserang penyakit itu. Masyarakat diimbau tidak takut imunisasi difteri.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Penyakit ini memiliki masa inkubasi 2-5 hari dan akan menular selama 2-4 minggu, memiliki gejala antara lain demam, batuk, sulit menelan, selaput putih abu-abu (pseudomembran), pembengkakan pada leher, dan sulit bernafas.


Berdasarkan data Kementerian Kesehatan sejak Oktober–November 2017, tercatat ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB Difteri di wilayah kabupaten/kota. Sebelas provinsi itu yakni Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Hingga November 2017, sudah ada 561 kasus difteri di 20 provinsi di Indonesia. Sebanyak 32 kasus berakhir dengan kematian. Menurut catatan Kemenkes, sebagian besar pengidapnya tidak diimunisasi.


Pemerintah sudah melakukan tindakan dengan melakukan Outbreak Renponse Imunisasion (ORI) atau imunisasi ulang secara masal dari umur tertua yang terkena penyakit tersebut.

'Kampanye' imunisasi difteri pun digalakkan segenap kalangan. Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan imunisasi difteri wajib dilakukan. Menolak imunisasi ini bisa menyebabkan kematian. "Apa yang selalu didengungkan, ini adalah sesuatu yang sudah diakui, kalau kemaslahatannya lebih banyak dari kemudaratannya, ini adalah wajib dilakukan," kata Nila.

Menurut Menkes, stok vaksin difteri pemerintah untuk 2017 cukup. Mereka akan meminta pengadaan vaksin ini dipercepat di 2018 dan berharap tidak ada lagi kasus vaksin palsu.


Imbauan senada juga disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Kemenko PMK mengimbau masyarakat untuk mengikuti proses pencegahan wabah Difteri. "Saya harap masyarakat jangan panik, pemerintah akan terus melakukan upaya pencegahan agar penyakit ini tidak menyebar semakin luas," ucap Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Sigit Priohutomo dalam keterangan tertulis, Senin 11 Desember 2017.

Imam besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengimbau masyarakat untuk mengikuti imunisasi serentak untuk penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Nasaruddin menyebut agama khususnya Islam selalu memudahkan umatnya dalam kondisi darurat. "Kami imbau yang belum imunisasi masyarakat itu berfikiran luas, jernih, berbaik sangka bahwa agama itu sebetulnya memudahkan walaupun tidak untuk dipermudahkan," kata Nasaruddin Umar kepada detikcom, Senin (11/12/2017).

Sejumlah tokoh juga menyerukan ajakan imunisasi difteri. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengimbau semua orang tua untuk memvaksin anaknya. Dia meminta warga tidak percaya dengan cerita-cerita bohong soal vaksin difteri. "Soal vaksinnya seperti apa, insya Allah vaksin aman tidak ada dongeng-dongeng," terangnya.


Anies menargetkan Jakarta bebas difteri sebelum gelaran Asian Games 2018.

Sedangkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pun mengimbau warga DKI Jakarta tidak ragu mengikuti program Outbreak Respon Imunization (ORI) untuk penyakit difteri. "Saya ingin mengimbau seluruh warga jangan ada keraguan ikut imunisasi difteri karena ini udah KLB. Udah kejadian luar biasa," kata Sandi.

Sandiaga memastikan dana di bidang kesehatan masih mencukupi untuk membeli 1,7 juta vaksin difteri yang saat ini dibutuhkan Pemprov DKI Jakarta.

Ajakan imunisasi juga didengungkan anggota Komisi IX DPR Dede Yusuf meyakinkan vaksin yang digunakan aman sehingga masyarakat tidak perlu takut lagi."Dan jangan takut karena vaksin ini tidak dibuat dari bahan-bahan yang berbahaya gitu," kata Dede Yusuf.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mendorong Bio Farma memproduksi vaksin difteri. Kang Emil mengimbau agar warga patuh terhadap pemerintah untuk melakukan vaksin difteri gratis tersebut. "Jangan gara-gara ketakutan, kemudian menyesal kemudian. Karena apa yang dianjurkan pemerintah sudah pasti baik. Warga Bandung segera konsultasikan urusan kesehatan, jangan menyepelekan," tutur Emil. (aan/fjp)