DetikNews
Selasa 12 Desember 2017, 06:40 WIB

Pekerja Migran Indonesia di Mekah Pengidap Stroke Dipulangkan

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Pekerja Migran Indonesia di Mekah Pengidap Stroke Dipulangkan DBI (60), pekerja migran Indonesia yang menderita stroke di Mekah, akhirnya dipulangkan. (Pensosbud KJRI Jeddah)
Jeddah - DBI (60), pekerja migran Indonesia, sudah empat tahun dirawat di RS Ibnu Sina, Mekah, karena menderita stroke. Perempuan asal Kalimantan Selatan ini akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

DBI dipulangkan KJRI Jeddah ke Tanah Air pada 11 Desember 2017. Kondisi DBI diketahui oleh KJRI Jeddah saat melakukan kunjungan ke RS Ibnu Sina Mekah pada 9 Oktober 2017.

Saat kunjungan, ditemukan tiga orang atas nama AD, AM, dan DBI, yang telah lama dirawat di tempat pelayanan kesehatan tersebut. AD dan AM telah dipulangkan oleh KJRI Jeddah pada 21 November 2017.

DBI merupakan WNI overstayer yang bekerja secara ilegal di Mekah. Saat dimasukkan seseorang ke RS Ibnu Sina dalam keadaan sakit, tidak ditemukan dokumen resmi apa pun.

"Seperti dua yang lain, pihak RS maupun yang bersangkutan tidak punya paspor atau dokumen resmi yang bersangkutan, jadi awalnya kami kesulitan untuk mengurus kepulangan," ujar Ainur Rifqie Madani, Pelaksana Fungsi Konsuler KJRI Jeddah, dalam keterangan yang diterima detikcom, Selasa (12/12/2017).

Meski demikian, tim KJRI tidak patah semangat. Berbekal informasi nama, KJRI Jeddah melakukan pendekatan ke pihak Imigrasi Arab Saudi untuk memanfaatkan program amnesti hingga exit permit yang bersangkutan dapat diterbitkan.

Setelah dokumen perjalanan dan izin keluar berhasil diterbitkan, KJRI Jeddah menelusuri keberadaan keluarga yang bersangkutan di Indonesia. Setelah berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta pemerintah daerah Balangan, Kalimantan Selatan, akhirnya didapatkan informasi Ahmat, putra kandung yang bersangkutan, untuk disampaikan soal kondisi DBI terkini.

DBI dipulangkan menggunakan tiket penerbangan dengan kursi stretcher mengingat informasi medis pihak rumah sakit yang menyatakan wanita kelahiran Karuh, 1957, itu tidak bisa duduk dan berdiri.

Seorang staf KJRI Jeddah ditugasi mendampingi dan memonitor kondisi kesehatan yang bersangkutan selama dalam perjalanan.

"Dengan informasi minim sekalipun KJRI Jeddah punya kewajiban untuk menelusuri dan membantu WNI, meski harus melalui prosedur yang sulit dan butuh waktu, sudah menjadi komitmen kami untuk memberikan yang terbaik," ujar Konsul Jenderal RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin.
(aan/elz)
tki
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed