DetikNews
Senin 11 Desember 2017, 22:22 WIB

Kemenag Kirim 101 Guru ke Daerah Terpencil

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Kemenag Kirim 101 Guru ke Daerah Terpencil Konferensi pers Kementerian Agama RI mengirimkan 101 guru ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. (Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Tangerang - Kementerian Agama RI mengirimkan 101 guru ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Mereka dikirim untuk memenuhi kebutuhan guru di daerah tersebut.

"Ini adalah program pertama kita untuk menjawab kelangkaan guru di kawasan perbatasan. Mudah-mudahan tahun depan akan bertambah sehingga apa yang dibutuhkan masyarakat di 3T bisa terpenuhi," kata Direktur Pendidikan Islam Dirjen PAI Kemenag Imam Safei di Jalan Pembangunan 3, Tangerang, Senin (11/12/2017).


Pengiriman guru ini dibagi dalam dua program. Program pertama adalah Bina Kawasan, yang mengirimkan 51 orang dan ditempatkan selama 1 tahun.

"Daerah yang dituju adalah Atambua dan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur; Nunukan, Kalimantan Utara; Kepulauan Aru, Maluku; Natuna, Kepulauan Riau; Sorong, Papua Barat; Pulau Derawan dan Pulau Maratua, Kalimantan Timur; Tolitoli, Sulawesi Tengah; serta sejumlah daerah tertinggal lainnya," paparnya.

Para calon guru agama yang akan mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)Guru agama yang akan mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. (Bil Wahid/detikcom)


Sisanya program Visitting Teacher dengan mengirimkan 60 guru. Mereka akan dikirim ke berbagai daerah, di antaranya Sulawesi Tenggara dan NTT selama satu pekan.

"Daerah sasaran program Visitting Teacher ini Baubau, Sulawesi Tenggara; Tidore, Maluku Utara; Flores, NTT; Karimun, Kepulauan Riau; dan sejumlah daerah 3T lainnya," ungkapnya.


Selain memenuhi kebutuhan guru, keberadaan mereka diharapkan mampu menangkal pemahaman radikal yang masuk dari luar Indonesia. Para guru yang dikirim ke daerah 3T ini sudah berkualifikasi punya pemahaman Islam yang moderat.

"Dengan masuknya anak-anak kita ini yang punya pemahaman moderat pastinya, kita jamin ini anak-anak santri yang sudah kita seleksi. Dan kami pastikan mereka punya pengetahuan keagamaan yang dibutuhkan di daerah mereka bekerja dan pemahaman mereka moderat. Jadi membentengi kemungkinan adanya penetrasi dari luar," pungkasnya.
(abw/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed