Perjalanan bertema Sejarah dan Budaya ini digelar sejak tanggal 5 hingga14 Desember 2017. Mereka tiba di Den Hag, Belanda dan diterima pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Rombongan Bupati diterima langsung oleh Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja.
"Ini adalah program Disbud untuk mengadakan lawatan sejarah dengan mengunjungi tempat bersejarah serta melihat artefak yang ada di Belanda. Kami pulang hari Kamis," kata Kepala Dinas Kebudayaan Pemkab Bone, Andi Promal Pawi saat dikonfirmasi via WhatsApp, Senin (11/12/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya rasa tidak. Manfaatnya kita melihat dan menyaksikan langsung sejarah dan budaya kita pada masa lampau yang ada di Belanda, baik itu lontara dan artefak (pusaka lainnya) yang kita pernah saksikan. Kita mengakui bahwa Bone memang kerajaan Besar pada masa lampau dan pusat kebudayaan Bugis Tabe," ujar Promal.
Promasl menambahkan, sebagai pejabat terkait di Dinas Kebudayaan pada khususnya, perjalanan ini dinilai penting karena bisa menjadi rujukan untuk pengetahuan dan kesaksian ke depannya.
"Hal ini menjadi motifasi dan kebanggan bagi kita karena kita punya peninggalan sejarah dan budaya di sini sangat dihargai dan sebagai orang kita harus mengetahui sejarah dan budaya kita pada masa lampau yg masih banyak belum kita ketahui, dengan benar dan banyak informasinya kita bisa dapatkan dan lihat di sini dinda," papar Promal.
Sebagai mana diketahui, biaya perjalanan yang disiapkan Disbud dalam anggarannya sebesar 400 juta, dengan mengikutkan 10 orang, yakni :
1. Asisten I, Muh Yamin,
2. Asisten III, Asriady,
3. Sekertaris Daerah (Setda) Bone, A Surya Dharma,
4. Kepala Dinas Kebudayaan, Andi Promal Pawi,
5. Kepala Dinas Kesehatan, A Kasma Padjalangi,
6. Kepala Dinas Pariwisata, A Iwan,
7. Kepala Inspektorat Daerah, A Amar Ma'ruf,
8. Kepala Dinas Pertanian, Sunardi Nurdin,
9. Bupati Bone, H Andi Baso Fahsar Padjalangi
10. Istri bupati
Lebih jauh Promal pun menambahkan jika beberapa di antara yang berangkat dalam perjalanan ini, terhitung tidak masuk dalam anggaran rencana kerja Disbud, namun masuk dalam anggaran biaya pribadi.
"Kalau asisten memang masuk di Renja, kalau Dinas Pertanian dia mandiri," pungkasnya. (asp/asp)










































