SMS Bom Bikin Anjlok Tingkat Hunian Hotel Bintang Lima
Selasa, 07 Jun 2005 13:25 WIB
Jakarta - Bom, lagi-lagi menjadi kata yang menakutkan bagi insan pariwisata. Akibat kata sakti itu, hanya dalam tempo kurang dari tujuh hari, tingkat hunian hotel bintang lima langsung anjlok dari 57,56 persen menjadi 38,93 persen.Tingkat kamar yang terjual pun melorot dari 3.860 kamar menjadi hanya 3.659 kamar. Demikian data yang dikeluarkan Federasi Serikat Buruh Pekerja Mandiri (FSPM) Hotel, Restoran, Plaza, Apartemen, Katering dan Pariwisata Indonesia di Jakarta, Selasa (7/6/2005).FSPM antara lain terdiri dari SPM Plaza Indonesia, SPM Four Seasons, SPM Gran Melia, SPM Raddin Ancol, SPM Dharmawangsa, SPM Taman Anggrek, SPM Alila, SPM Nikko, SPM Grand Hyatt, SPM Aryaduta Hyatt, SPM Marche, SPM Park Lane, SPM Gran Mahakam, SPM Wisma Mulia, SPM Novotel Bogor, SPM Pizza Hut, dan SPM Lawris. Menurut Sekretaris Umum FSPM Odie Hudiyanto, penurunan tingkat hunian ini akibat adanya peringatan yang dikeluarkan Kedubes Amerika Serikat pada Jumat (3/6/2005) dan pesan singkat (SMS) tentang ancaman bom yang mengguncang Jakarta pada Sabtu (4/6/2005) lalu.Berdasarkan data yang dihimpun FSPM, dari 14 hotel berbintang lima di Jakarta, terjadi pembatalan reservasi kamar. Pembatalan terutama dilakukan pelaku bisnis warga negara asing."Penurunan paling nyata terjadi pada hotel yang operatornya berpusat di AS seperti Hotel JW Marriott, The Ritz Carlton dan Inter-Continental MidPlaza," ungkap Odie.Tingkat hunian di Hotel JW Marriott yang pada 1 Juni 2006 masih tercatat 74,17 persen langsung anjlok menjadi 52,25 persen pada 5 Juni 2005. Sedangkan kamar yang terjual turun dari 247 kamar menjadi 174 kamar.Sedangkan tingkat hunian di Hotel The Ritz Carlton yang mesih tercatat 35,14 persen pada 1 Juni 2005 melorot ke angka 19,37 persen. sedangkan kamar yang terjual menjadi 43 kamar dari 117 kamar.Penurunan cukup besar juga terjadi pada tingkat hunian di Hotel Inter-Continental MidPlaza dari 94,58 persen pada 1 Juni 2005 menjadi 59,04 persen pada 5 Juni 2005, dan kamar yang terjual turun dari 314 kamar menjadi 174 kamar.Selain ancaman bom, travel warning yang dikeluarkan beberapa negara juga menjadi penyebab penurunan jumlah wisatawan. Atas kondisi tersebut, lanjut Odie, FSPM meminta pemerintah memberikan jaminan keamanan yang lebih baik dengan melakukan pengamanan yang lebih ketat pada tempat-tempat industri wisata.FSPM juga meminta pihak kepolisian mengusut secara cepat pelaku teror melalui SMS. Teror SMS tersebut telah membuat tamu yang sudah menginap mempercepat kunjungannya dan membatalkan rencananya menginap karena ketidakpastian keamanan.FSPM juga mendesak pelaku terorisme tidak melakukan peledakan bom atau tindakan teror apa pun di tempat-tempat wisata."Kami mengetuk hati nurani kepada semua pihak untuk tidak menambah duka dan derita para buruh pariwisata. Ledakan bom tidak hanya menghilangkan nyawa tapi juga menyebabkan buruh akan kehilangan pekerjaannya," kata Odie.FSPM juga meminta kepada negara-negara asing agar segera mencabut travel warning-nya untuk membantu bangkitnya industri pariwisata Indonesia.
(umi/)











































