Mereka menunggu perayaan Hari Antikopusi Internasional (HAKI) yang pertama kali diadakan di Kota Serang, bahkan Banten. Warga menyampaikan bagaimana korupsi dan dan dampaknya.
Pembukaan acara dimulai dengan pembacaan puisi salah satu seniman Kota Serang. Wahyu Arya, lelaki yang tampak ceking itu maju ke panggung dengan baju terlihat kedororan. Lampu dimatikan, suasana hening, ratusan pengunjung pun terdiam. Ia membacakan puisi:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kepala kami ada sekolah terbuat dari kardus.
Bapak ibu guru terbuat dari papan triplek.
Halaman sekolah kami terbuat dari bubuk kayu atau remah roti
Kami sekolah siang malam.
Menulis tanpa henti dan sesekali mengambar matahari dan wajah bupati.
Dunia alangkah riang di sekolah kami.
Musang, kerbau, ular kadut, cacing tanah, mamba, naga, angsa, anjing, bangau, kura kura, tonggeret, hewan- hewan lucu yang menemani kami setiap hari.
Bukankah sekolah kita mirip taman safari? Kata ibu guru suatu hari.
Kami mengangguk riang
![]() |
Penonton sontak terlihat semakin hening. Wahyu membacakan puisnya sampai tuntas. Ia mengaku puisi disiapkan menjelang hari antikorupsi. Di buat di sebuah daerah dekat sekolah di Ciruas yang saat ini sering dibicarakan di Serang.
Selain puisi, rangkaian acara juga diisi oleh penampilah Ubrug Sentra Agatha dari SMA 2 Pandeglang. Sebuah penampilan lenong tentang korupsi dari perspektif pelajar.
Ada pula beberapa seniman reggae Momonon, Tongkat Kayu, NDR, dan persentasi dari netizen instagram Rambo Serang yang biasa viral di Banten.
Usai berbagai penampilan, Handa dari perwakilan Dikyanmas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maju ke atas panggung, juga ada Ade Irawan aktivis ICW, Agis Aulia petani dan peternak asal Serang, dan seorang seniman asal Lebak bernama Gozil. Di panggung, keempatnya bicara soal peran serta pemuda dalam gerakan anti korupsi.
![]() |
Handa dari perwakilan KPK mengajak pemuda di Banten agar turut serta dalam rangka pencegahan korupsi. Korupsi menurutnya tidak hanya berbicara tangkap tangan. Tapi pemusik, seniman dan berbagai kalangan bisa menampilkan karya-karyanya yang bertemakan antikorupsi.
"Bicara korupsi, artinya adalah jelek, rusak, semuanya negatif. Semua kata yang disandangkan kepada korupsi adalah negatif," kata Handa.
Lain hal misalnya apa yang disampaikan aktivis ICW Ade Irawan. Lelaki asal Balaraja, Tangerang ini menyoroti dampak korupsi yang justru malah tidak disadari oleh generasi muda termasuk di Banten.
Padahal menurut Ade, sejak lahir warga Indonesia sudah terkena dampak korupsi. Mulai dari pembuatan identitas yang harus bayar, mau beribadah harus bayar, kesehatan yang harus bayar. Bahkan di Banten, karena dampak korupsi ada istilah sekolah dari bekas kandang kerbau menurutnya.
"Kita tidak merasa, bahkan orang yang korup mau maju lagi (Pilkada) kadang-kadang kita pilih. Padahal berdampak pada kita," kata Ade.
Ade meminta pemuda di Banten untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan korupsi. Menurutnya, korupsi yang dilakukan berjamaah, hanya bisa dilawan secara bersama-sama.
"Melawan penjajahan kan anak muda, melawan korupsi dibutuhkan pemuda. Jangan cerai berai, kita harus berjamaah," paparnya.
Pun begitu yang disampaikan oleh perwakilan petani sekaligus peternak Banten Agis Aulia. Lulusan cum laude dari UGM ini memilih menjadi pertani untuk pemberdayaan masyarakat desa. Sederhana saja, menurutnya, kemiskinan dan ketidakberdaayan begitu rentan terhadap potensi korupsi.
Oleh sebab itu, ia mengaku melakukan pemberdayaan wirausaha muda di Banten agar tidak rentan melakukan korupsi.
Sebagai penutup, ratusan pengunjung yang hadir di Jalan Saleh Baimin ini kemudian berdiri melakukan deklarasi bersama generasi antikorupsi. Deklarasi yang menyatakan bahwa pemuda Banten juga bisa melawan korupsi. (bri/asp)













































