Tradisi Maulid di Karst Rammang-Rammang: Ribuan Telur Diarak Perahu

Tradisi Maulid di Karst Rammang-Rammang: Ribuan Telur Diarak Perahu

Moehammad Bakrie - detikNews
Sabtu, 09 Des 2017 12:45 WIB
Tradisi Maulid di Karst Rammang-Rammang: Ribuan Telur Diarak Perahu
Maulid Nabi di Rammang-Rammang Maros, Sulsel (Moehammad Bakrie/detikcom)
Maros - Lebih dari 50 unit perahu digunakan oleh warga bersama wisatawan mengarak ratusan paket makanan. Makanan itu diarak di sepanjang sungai.

Itu adalah pemandangan khas perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di objek wisata karst Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/12/2017).

Tradisi Maulid yang digelar ini sedikit berbeda dari kebanyakan tradisi Maulid yang dilaksanakan masyarakat pada umumnya. Di sini hiasan makanan tidak dibawa ke masjid, melainkan diarak di sepanjang sungai yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan di lokasi itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang warga, Muhammad Ikhwan, mengatakan, selain wujud kecintaan kepada Nabi, peringatan Maulid yang dilaksanakan di sungai ini sebagai rasa syukur warga atas nikmat sungai yang selama ini menjadi mata pencarian mereka.

"Ini bentuk syukur kami atas Sungai Pute yang selama ini menjadi berkah bagi masyarakat lokal. Sungai ini tempat kami mengais rezeki melalui wisatawan yang berkunjung ke sini," ungkap Ikhwan.

Dia melanjutkan, peringatan Maulid yang meriah itu juga dipenuhi ribuan butir telur hias. Bukan hanya warga, semua pengunjung yang datang ke objek wisata yang baru saja dinobatkan menjadi wilayah geopark nasional ini juga bisa menikmatinya secara gratis.

"Kegiatan ini juga sebagai persembahan atau sajian bagi pengunjung. Artinya, telur hias itu untuk dinikmati oleh pengunjung di atas perahu," lanjutnya.

Kepala Desa Salenrang, Muhammad Nasir, mengatakan tradisi Maulid ini menjadi salah satu keunikan warga yang tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sementara tradisi Maulid di beberapa daerah sudah modern, di tempatnya masih sangat tradisional.

"Di tempat lain itu sudah sangat modern, bahkan sudah jarang ada telur hias. Kami di sini masih menggunakan bahan-bahan dulu. Seperti baku yang terbuat dari daun-daun nipa dan telur yang dituruk dan dihias," katanya.

Nasir mengaku tradisi yang tiap tahun digelar ini memang tidak dipromosikan sebagai satu agenda wisata. Ke depannya, ia berharap tradisi ini akan dikemas menjadi salah satu agenda wisata religi yang bisa menyedot wisatawan lebih banyak.

"Kita lihat antusiasme wisatawan hari ini sangat luar biasa meski ini tidak dipromosikan. Ke depannya, kita akan buat menjadi satu kemasan wisata religi yang khas di Rammang-Rammang ini," akunya. (dnu/dnu)


Berita Terkait