DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 16:09 WIB

Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Bupati: Saya Sedih

Jaya Hartawan - detikNews
Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Bupati: Saya Sedih Bupati Luwu Utara Indah Putri (jaya/detikcom)
Luwu - Jenazah Mesek Wungko digotong warga sejauh 36 km menembus hutan. Tak ada ambulans, tak ada biaya untuk sewa kendaraan dari RS pulang ke kampungnya di Rampi.

Atas hal itu, Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani sangat prihatin dan segera memanggil beberapa SKPD teknis guna menyikapi kejadian tersebut dan menanyakan progres pembukaan akses jalan dan fasilitasi kesehatan di Puskesmas Rampi. Ekspresi tersebut terlihat jelas saat orang nomor satu di Luwu Utara itu.

"Saya sedih sekaligus prihatin melihat prosesi pemakaman terhadap warga kita yang ada di Rampi. Saya kira semua ini ada hikmahnya, utamanya bagi jajaran pemerintah daerah untuk melakukan percepatan pembangunan, khususnya terkait infrastruktur jalan ke Kecamatan Rampi," ujar Bupati Indah Putri saat ditemui detikcom di ruang kerjanya, Kamis (7/12/2017) siang.
Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Bupati: Saya Sedih

Apa yang terjadi di Rampi itu, kata Indah, menjadi pelajaran bagi semua. Bukan hanya pemerintah daerah, tetapi seluruh masyarakat Luwu Utara. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, dibutuhkan kebersamaan, kekompakan, kerja sama, dan koordinasi antar-stakeholder, terutama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Untuk itu, terkait akses jalan, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara jauh sebelumnya berupaya mempercepat proses penyelesaian pekerjaan jalan dari Masamba menuju Rampi.

Sebelum ada peristiwa ini, pemda sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya percepatan penyelesaian pekerjaan jalan menuju Rampi, dengan membuka beberapa titik jalan. Alat berat kami sudah lama beroperasi di sana," ungkap Indah.
Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Bupati: Saya Sedih

Namun, semua itu, lanjut Indah, butuh proses karena pekerjaan jalan di medan yang berat seperti Rampi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pemerintah juga tengah mengupayakan agar jalan tersebut berubah status menjadi jalan negara mengingat akses jalan itu menghubungkan dua provinsi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Bukan itu saja, dengan kondisi lahan yang cukup labil karena berada di wilayah hutan lindung mengakibatkan pekerjaannya menyita waktu yang cukup panjang.

"Pemerintah daerah tidak pernah menutup mata, apalagi tidur, melihat kondisi ini. Sudah setahun belakangan kami berupaya membuka akses jalan baru menuju Rampi yang progresnya sudah mencapai 3 km dari target 6 km dengan dana APBD 2017. Titik nol dari Dusun Tolada, Desa Leboni, ke Dusun Lekko, Desa Leboni. Walaupun medannya sangat berat, proyek diusahakan selesai akhir tahun dan sudah dapat dilalui roda empat dari Masamba ke Onondowa Rampi," terang Indah.

Pada 2019, direncanakan dibuka akses jalan baru 30 km melalui hutan lindung dari Desa Tedeboe Rampi ke Desa Singkalong Seko. Diharapkan dapat dilaksanakan jika sudah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat.

"Tapi ini bukan pekerjaan 'simsalabim'. Saya berkali-kali katakan ke seluruh jajaran Pemkab Luwu Utara, pemerintah harus hadir memberi solusi, apa pun kondisi masyarakat kita," ucapnya.
Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Bupati: Saya Sedih

Upaya lain yang tengah dilakukan pemerintah daerah adalah memperlancar akses lewat udara.

"Insyaallah mulai 2018 pemerintah bakal mendatangkan pesawat kargo, sebuah pesawat khusus untuk mengangkut barang atau komoditas lainnya. Tolong dicatat, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah memprogramkan Luwu Utara untuk pengangkutan kargo ke wilayah Seko dan Rampi pada Januari 2018," ungkapnya.

Komitmen pemda juga ditunjukkan dengan tersedianya fasilitas kesehatan di daerah terpencil, seperti puskesmas rawat inap di Desa Sulaku Rampi dengan tenaga medis dan lainnya, sesuai Permenkes 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas.

"Untuk infrastruktur kesehatan, kita juga telah membangun Puskesmas Rampi yang dulunya cuma bisa rawat jalan, sejak Juli 2017 sudah menjadi rawat inap dengan 144 penyakit yang tidak boleh dirujuk, harus selesai di puskesmas," beber Indah.
Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Bupati: Saya Sedih

Dengan adanya puskesmas ini, lanjut Indah, diharapkan semua pasien bisa berobat di sana, dan tidak perlu lagi jauh-jauh ke Kota Masamba atau Palopo untuk berobat.

"Untuk itu, pemerintah harus hadir di kehidupan masyarakatnya, mulai aspek pelayanan, kesejahteraan, keamanan, sampai pada akses transportasi serta infrastruktur lainnya sebagai penopang keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan guna mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera," pungkasnya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed