DetikNews
Kamis 07 Desember 2017, 13:56 WIB

Melihat Petilasan Raja Hayam Wuruk yang Ramai Jelang Pilkada

Enggran Eko Budianto - detikNews
Melihat Petilasan Raja Hayam Wuruk yang Ramai Jelang Pilkada Petilasan Raja Hayam Wuruk (enggran/detikcom)
Mojokerto - Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Barangkali itulah yang menjadi alasan petilasan Sang Prabu di Mojokerto menjadi jujukan para peziarah, termasuk calon kontestan Pilkada.

Petilasan Prabu Hayam Wuruk terletak di Dusun/Desa Panggih, Trowulan. Tempat yang satu ini biasa disebut warga sekitar dengan Reco Banteng (Arca Banteng).

Ya, di tempat yang terletak di tengah perkebunan jagung ini ditemukan sebuah arca Dewi Parwati, salah satu dewa dalam agama Hindu yang berdiri di atas seekor banteng. Namun, arca ini dibawa ke Belanda pada masa kolonial.

Kendati Arca Banteng tak lagi ada, warga setempat masih setia merawat tempat ini. Juru Kunci Reco Banteng Sutrisno (45) mengatakan, tempat ini merupakan tempat bertapa Raja Hayam Wuruk.

"Di sini dulunya tempat bertapa Raja Hayam Wuruk. Masyarakat sini mempercayai abu yang ditempatkan di dalam tembikar merupakan abu Raja Hayam Wuruk," kata Sutrisno saat berbincang dengan detikcom di Reco Banteng, Kamis (7/12/2017).

Setelah tiga kali dipugar antara tahun 1963-1996, Reco Banteng menjadi tempat berziarah yang cukup memadai. Petilasan Raja Hayam Wuruk kini dinaungi pendopo yang cukup megah.

Pada bagian dalamnya, terdapat sebuah makam berukuran 4x1,5 meter. Juga terpampang sebuah lukisan potret Prabu Hayam Wuruk berukuran 1x1,2 meter.

Menurut Sutrisno, makam ini sengaja dibangun agar petilasan Raja Hayam Wuruk terhindar dari pengrusakan. Konon di bawah makam ini terpendam abu Raja yang mempunyai gelar Maharaja Sri Rajasanagara itu.

"Lukisan ini hasil meditasi si pelukis selama sebulan di sini, baru sekitar 8 bulan yang lalu lukisan ini dibuat," ujarnya.

Raja Hayam Wuruk merupakan raja ke-4 Majapahit yang memerintah tahun 1350-1389 M. Dia merupakan putra dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi, anak dari raja pertama Majapahit Raden Wijaya.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan. Dibantu Mahapatih Gajah Mada, Hayam Wuruk mampu mengusasi wilayah Nusantara.

Nama besar Sang Raja, lanjut Sutrisno, membuat petilasannya di Reco Banteng banyak dikunjungi peziarah. Mereka datang dari Sidoarjo, Jombang, Malang, Gresik, Surabaya hingga Jakarta.

Khususnya pada hari Kliwon, dalam penanggalan Jawa, petilasan Hayam Wuruk ramai dikunjungi peziarah. Ada yang sekadar mendoakan leluhur mereka, ada pula yang ingin bisnisnya lancar, mendapat jodoh dan naik pangkat.

"Biasanya saat Pilkada, calon-calon datang ke sini. Dua bulan yang lalu ada calon bupati dari Sampang (Madura) datang ke sini. Tujuannya kirim doa, minta restu kepada leluhur," ungkapnya.

Cara ritual di Reco Banteng, kata Sutrisno, juga beragam. Sebagian besar peziarah hanya bermeditasi di dalam petilasan Hayam Wuruk. Namun, ada pula yang menggelar kenduri dengan membawa tumpeng di tempat ini.

Sebelum itu, para peziarah biasa menyucikan diri di sumur Reco Banteng yang terletak sekitar 5 meter di sisi selatan petilasan Hayam Wuruk. Menurut Sutrisno, sumur berdiameter lebih dari 1 meter ini merupakan sumber air kuno yang sudah ada sejak zaman Majapahit.

"Ada yang mandi kembang untuk ritual menyucikan diri," terangnya.

Tak jauh beda dengan kebanyakan situs purbakala di Trowulan, tambah Sutrisno, Reco Banteng juga terkenal angker. Di tempat ini kerap muncul penampangan wanita berparas cantik dengan busana kraton.

"Itu pengikut Raja Hayam Wuruk, biasanya orang yang ingin bertemu saja yang mendapatkan penampakan," tandasnya.

Sementara juru kunci Reco Banteng periode 2010-2016, Jamil (72) menceritakan, petilasan Hayam Wuruk menjadi langganan untuk ziarah Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa. Terlebih lagi pada masa pencalonan tahun 2010 dan 2015.

"Bupati MKP (Mustofa Kamal Pasa) sering ke sini, bahkan seminggu sekali selama masa pencalonan," ungkap kakek 13 cucu ini.

Setiap kali berziarah, kata Jamil, MKP sekadar berdoa di dalam petilasan sembari membakar dupa dan kemenyan pada malam hari. Selama masih menjadi juru kunci Reco Banteng, bapak 5 anak ini mengaku rutin diminta MKP membakar dupa setiap hari Jumat malam.

"Setelah jadi bupati masih rutin ke sini, sebulan dua kali. Kalau saat ini saya kurang tahu karena saya sudah tidak menjadi juru kunci," cetusnya.

Tak hanya itu, menurut Jamil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga pernah berziarah ke petilasan Hayam Wuruk.

"Saat mencalonkan presiden tahun 2014, beliau bersama rombongan bawa mobil tiga, dikawal kepolisian juga. Di sini hanya berdoa di dalam petilasan selama sekitar satu jam," paparnya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed