Kisah Kakek Suharyono, Hidup Sebatang Kara di Bekas Kandang Kambing

Kisah Kakek Suharyono, Hidup Sebatang Kara di Bekas Kandang Kambing

M Iqbal - detikNews
Rabu, 06 Des 2017 09:44 WIB
Kisah Kakek Suharyono, Hidup Sebatang Kara di Bekas Kandang Kambing
Foto: iqbal
Cilegon - Kisah tentang manusia hidup di bekas kandang hewan kali ini datang dari Kota Cilegon, Banten. Pak Pagi, begitu ia disapa hidup di bekas kandang kambing selama kurang lebih 4 tahun.

"Nama saya Suharyono, biasa dipanggil Pak Pagi. Nggak tahu kenapa (dipanggi Pak Pagi) lha wong biasa namanya orang jorangan (bercanda) gitu," katanya sesaat setelah ditanya nama dan usia saat detikcom menyambangi rumahnya, Rabu (6/12/2017).

Usianya kini menginjak 67 tahun sejak ia dilahirkan pada 1950 silam. Pak Pagi tinggal di bangunan berukuran 3x4 m itu sudah sejak 4 tahun lalu atau sekitar 2013. Ia membenarkan bahwa tempat yang didiaminya itu dulu bekas kandang kambing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum tinggal di bekas kandang kambing dan hidup sebatang kara, Pak Pagi dulu punya rumah layak dan hidup berkecukupan. Pun dengan keluarganya yang kini telah meninggalkannya. Masalah perceraian dan utang membuat keluarga Pak Pagi berantakan hingga ia tinggal seorang diri.
Kisah Kakek Suharyono, Hidup Sebatang Kara di Bekas Kandang Kambing

"Kurang lebih 4 tahun ada (tinggal di sini) dulu tinggal di rumah Pak Eko ini (Ketua RT) tapi sudah dijual. Makanya saya minta sama saudara minta tempat tinggal, nggak tahunya sampai lama, nggak mati-mati," kata Suharyono menceritakan.

Dulu, Pak Pagi bermukim di Lingkungan Kaligandu, Kelurahan/Kecamatan Purwakarta sebelum menempati bekas kandang kambing tersebut. Berada persis di pinggir sawah di Lingkungan Wates Telu, Pak Pagi hanya beda wilayah RT dengan rumahnya dulu.

Kala itu, rumahnya dijual karena terlilit utang dan tak mampu membayar, di usia senjanya, ia istrinya bercerai hingga akhirnya hidup sebatang kara. Pak Pagi dulu punya 5 anak, kini hanya tersisa 1 sementara 4 lainnya meninggal dunia.

Awalnya Pak Pagi tidak ingin lama hidup di sana, sesaat setelah rumahnya dijual, ia meminta kepada saudaranya yang punya tempat itu untuk ditinggali sementara waktu.

"Iya betul (bekas kandang kambing). Disembelih kambingnya di dalem itu. Ini yang punya keponakan saya, saya Pakdenya, saya di sini numpang di tempat saudara. Ya awalnya kita pindah karena dijual," tuturnya.
Kisah Kakek Suharyono, Hidup Sebatang Kara di Bekas Kandang Kambing

Pak Pagi hidup sebatang kara di gubuk itu berbekal belas kasih dari rekan dan tetangganya untuk dapat makan sehari-hari. Tubuhnya tak lagi kuat untuk bekerja dan menafkahi dirinya sendiri. Jika ada persediaan beras, maka ia memasak di tungku yang terbuat dari tumpukan batu bata di depan tempat tinggalnya.

Paling bantar, katanya, nasi itu dimakan dengan mi instan hasil pemberian kawan-kawannya. Memang, tuturnya, kawan-kawan dan tetangganya tak pernah abai pada kondisinya.

"Ya kalau makan dikasih sama saudara di sini, sama kawan-kawan juga. Alhamdulillah ada aja," katanya.

Pak Pagi berharap ada bantuan pemerintah agar di usia senjanya ia dapat hidup di rumah yang layak. Perihal kehadiran negara dalam menjamin kesehatan dan kesejahteraannya, Pak Pagi memiliki 2 kartu ajaib pemerintahan Jokowi yakni, Kartu Indonesia Sehat dan dan Kartu Keluarga Sejahtera. (asp/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads