DetikNews
Selasa 05 Desember 2017, 18:04 WIB

Laporan Dari London

Indonesia-IMO Bertemu Khusus Bahas Keselamatan Pengangkutan Nikel

Fajar Pratama - detikNews
Indonesia-IMO Bertemu Khusus Bahas Keselamatan Pengangkutan Nikel Foto: Pertemuan delegasi Indonesia dengan IMO. (Fajar-detikcom)
Jakarta - Delegasi Indonesia bertemu secara khusus dengan pihak International Maritime Organization (IMO). Pertemuan itu membahas mengenai mekanisme pengangkutan nikel secara aman.

Pembahasan itu dilakukan di sela-sela rangkaian sidang IMO asembly ke-30 di markas IMO , Albert Embankment, London, Selasa (5/12/2017). Indonesia yang merupakan salah satu produsen nikel di dunia perlu bertemu dengan IMO mengenai bagaimana mekanisme pengangkutan nikel.

"Di sela-sela sidang IMO Assembly, ada pembahasan khusus mengenai International Maritime Solid Bulk Cargo (IMSBC) Code dimana Indonesia merupakan salah satu negara produsen nikel terbesar di dunia," ujar Atase Perhubungan RI untuk London, Simson Sinaga ketika ditemui di kantor IMO.

Simson mengatakan pengangkutan nikel memiliki kerawanan mengingat material yang dibawa bisa mencair saat berada di dalam kapal. Dengan adanya cairan dalam jumlam tertentu di dalam kapal, keseimbangan kapal bisa terganggu.

"Fokus IMO pada kegiatan ini di Indonesia adalah pada pengangkutan nikel, mengingat Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar di dunia, dan nikel memiliki risiko pengangkutan yaitu bisa mencair dalam perjalanan, sehingga mengganggu stabilitas kapal, dan membahayakan keselamatan kapal bila tidak ditangani secara khusus saat sebelum loading, saat loading dan pengangkutan," kata Simson.

Simson mengatakan, IMO sebagai badan khusus PBB yang menangani isu maritim, menaruh perhatian pada isu IMSBC Code, yang merupakan bagian dari The International Convention for the Safety of Life at Sea, 1974 (SOLAS Convention).

IMSBC Code ini melengkapi pengangkutan kargo curah padat yang ada dalam chapter VI SOLAS. Tujuan code ini adalah mengatur penyimpanan dan pengangkutan kargo curah padat dengan memberikan informasi mengenai resiko bahaya yang dibawa pada pengangkutan beberapa jenis kargo curah padat dan prosedur yang harus dilakukan pada saat adanya pengangkutan.

Untuk itu, menurut Simson, pada prinsipnya, Indonesia mengikuti dan kooperatif dengan pemenuhan aspek keselamatan pelayaran khususnya penempatan muatan nickel ore di atas kapal.

Terkait dengan pengangkutan material curah seperti nikel ini, Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan telah mengadakan workshp dengan IMO pada 6 November 2017 lalu. Workshop yang digelar di Jakarta itu bertemakan National Awareness Workshop on the Implementation of the International Maritime Solid Bulk Cargo (IMSBC) Code, with Special Focus on Cargoes that may liquefy. Workshop tersebut, diselenggarakan atas kerja sama dengan IMO dalam kerangka Integrated Technical Cooperation Programme (ITCP).

ITCP adalah program capacity-building dalam sektor maritim yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan negara anggota dalam menerapkan instrumen IMO secara menyeluruh untuk keselamatan dan keamanan pelayaran, peningkatan perlindungan lingkungan dan fasilitasi jalur maritim internasional.

Ucapan Terima Kasih dari Indonesia

Masih terkait dengan rangkaian sidang IMO, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Rudiana menyampaikan terima kasih kepada negara-negara yang memilih Indonesia sebagai anggota dewan IMO periode 2018-2019. Pada Jumat kemarin, Indonesia terpilih dan menempati urutan 8 dari 20 negara anggota dewan kategori C.

"Pemerintah Indonesia menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan negara-negara anggota International Maritime Organization (IMO) yang telah memberikan suaranya kepada Indonesia dalam pemilihan anggota Dewan IMO Kategori C hari Jumat lalu (1/12)," kata Rudiana dalam sidang pada Senin (4/12) kemarin.

Indonesia-IMO Bertemu Khusus Bahas Keselamatan Pengangkutan NikelFoto: Sesditjen Perhubungan Laut Rudiana (Fajar-detikcom)


Setelah pemilihan anggota Dewan IMO, lanjutan sidang IMO Assembly dilaksanakan hingga tanggal 6 Desember 2017 dan ditutup dengan sidang IMO Council periode 2018-2019 pada tanggal 7 Desember 2017.

"Sidang IMO Assembly terdiri dari 2 komite, komite 1 untuk membicarakan administrasi dan komite 2 untuk membahas terkait aspek teknisnya," tutup Rudiana.


(fjp/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed