"Cara-cara yang dilakukan bupati dengan memanggil Devi untuk klarifikasi adalah bentuk represif yang menghancurkan psikologis siswa dan berdampak pada psikologi sosial terkait pendidikan di Serang," kata Akademisi Untirta Firman Hadiansyah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan kepada wartawan, Serang, Banten, Senin (4/12/2017).
Bupati Tatu Chasanah menurutnya melakukan cara yang tidak elegan dan cederung reaktif. Ia dinilai tidak mempertimbangkan efek psikologis siswa, guru dan masyarakat sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pagi tadi, Bupati Serang Tatu Chasanah mengumpulkan komite sekolah SD Sadah terkait istilah sekolah kandang kerbau di Desa Cisait, Kecamatan Ciruas. Ia juga menanyakan kepada siswa bernama Devi Marsya soal suratnya yang viral di media sosial karena sekolah memperihatinkan.
"Adek kemarin kan masa sekolah di kandang kerbau. Adek ngeluh ke presiden ke gubernur. Sekarang Ibu mau nolongin jadi gimana. Harus jelas. Sekarang mau ibu cari solusinya," kata Tatu Chasanah kepada siswa bernama Devi di Pendopo Bupati Serang.
"Coba adek bicara? Betul ngak itu soal kandang kerbau. Pokokya ibu ngedengernya adek aja karena adek (yang bilang) kandang kerbau," katanya lagi.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, Devi yang didampingi orang tuanya hanya diam saja. Beberapa warga yang hadir dan komite sekolah yang hadir pun menolak usulan bupati soal pemindahan sekolah.
Tatu sendiri mengaku ia tidak membiarkan ada siswa di daerahnya sekolah di kandang kerbau. Namun ia bingung kenapa ada anak siswa sampai bicara kepada umum soal belajar di sekolah tidak layak.
Tatu juga menuding, ada media yang ingin membunuh karakternya mengenai banyaknya sekolah rusak dan warga yang tinggal di rumah tidak layak huni di Kabupaten Serang.
"Dimanfaatkan untuk membunuh karakter saya," katanya. (bri/asp)











































