DetikNews
Sabtu 02 Desember 2017, 12:06 WIB

Ahmad Dhani dan Fadli Zon Setuju 212 Dianggap Aksi Politik

Mochamad Zhacky - detikNews
Ahmad Dhani dan Fadli Zon Setuju 212 Dianggap Aksi Politik Foto: Ahmad Dhani dan Fadli Zon (tengah). (Dok Twitter @fadlizon)
Jakarta - Aksi 212 banyak dianggap sebagai bagian dari kegiatan politik. Ahmad Dhani dan Fadli Zon, yang hadir dalam Reuni 212, tak menampik tudingan tersebut.

"Kalau menurut saya, 212 ini bisa dibilang aksi politik. Karena Ahok pun menjadi tidak menang, ini asumsi awam saya. Bisa dibilang aksi politik," ujar Dhani sebelum meninggalkan lokasi Reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12/2017).

Aksi 212 tahun lalu memang diselenggarakan saat pergelaran Pilgub DKI Basuki T Purnama berlangsung. Saat itu ada 3 pasangan yang bertanding, yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki T Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pilgub DKI pun dimenangi Anies-Sandi.


Dhani kemudian menyebut politik wajib dilakukan umat Islam. Dia menyerukannya dalam rangka Reuni 212 ini.

"Pesannya sih saya melihatnya umat Islam boleh berpolitik, wajib," tegas Dhani.

Pentolan band Dewa 19 itu juga punya pesan lain. Dia berharap Reuni 212 tahun berikutnya bisa diselenggarakan lebih meriah lagi.

"Kalau saya ngelihat sebagai entrepreneur, tahun depan dibungkus dengan EO (event organizer) yang lebih bagus. Orang yang lebih banyak, sound system-nya lebih bagus, dan ulamanya dari seluruh dunia," papar kader Gerindra itu.

Ahmad Dhani dan Fadli Zon Setuju 212 Dianggap Aksi PolitikFadli Zon (Mochammad Zhacky/detikcom)

Soal politik di kegiatan 212 juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Menurut dia, politik dan keagamaan tidak bisa dilepaskan karena saling menyatu.

"Ya namanya kita hidup masak dipisahkan antara politik, ekonomi, keagamaan, kebudayaan. Semua kan menyatu," ungkap Fadli di lokasi yang sama.

Dia menilai Reuni 212 sebagai kegiatan keagamaan yang bagus. Tapi Fadli tak setuju apabila aksi 212 dianggap sebagai bentuk politisasi.

"Kalau mau dibawa nilai sendiri saja, nggak ada dugaan sangkaan politisasi. Saya kira itu kurang cerdas saja menangkapnya," tutur Waketum Gerindra tersebut.





(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed