DetikNews
Jumat 01 Desember 2017, 19:19 WIB

Pembina Presidium: 212 Adalah Gerakan Politik, The Real Politics

Jabbar Ramdhani - detikNews
Pembina Presidium: 212 Adalah Gerakan Politik, The Real Politics Pembina Presidium 212 Kapitra Ampera (Amel-detikcom)
Jakarta - Ketua Setara Institute menyebut Reuni 212 yang akan digelar besok sebagai sebuah gerakan politik. Pembina Presidium 212 Kapitra Ampera tak menyanggah hal tersebut.

Dia mengatakan 212 sebagai sebuah gerakan politik. Menurutnya, gerakan yang dilakukan ini untuk menumbuhkan kesadaran politik.


"212 adalah gerakan politik, the real politics. Saya mau katakan, kehidupan ini dilingkupi dengan kehidupan politik. Sampai Kapolri dan Panglima TNI dan dipilih oleh lembaga politik. Semua kehidupan napas kita diatur oleh politik. Bangsa ini diatur oleh orang-orang politik, kekuasaan diperebutkan dalam politik," kata Kapitra lewat sambungan telepon, Jumat (1/12/2017).

"Pertemuan ini, konsolidasi umat Islam agar menumbuhkan kesadaran politik umat Islam yang selama ini melupakan, memisahkan politik dengan agama," sambungnya.


Kapitra mengatakan kesadaran politik yang dimaksudnya ialah agar masyarakat berhak menentukan pemimpin mereka. Hal ini termasuk pemimpin yang ada di lingkup legislatif maupun eksekutif.

"Yang tidak dibolehkan merebut kekuasaan yang sah dengan cara yang tidak sah. Atau kudeta, atau makar. Itu perbuatan haram. Tapi menentukan pilihan lewat pilpres, pilkada, ini konstitusional betul. Kenapa tidak?" tuturnya.


Ketika ditanya soal kemungkinan dibentuknya sebuah partai, Kapitra tak menjawab. Dia mengatakan yang terpenting ialah menimbulkan kesadaran politik di masyarakat untuk menentukan pemimpin.

"Yang penting menimbulkan kesadaran masyarakat sehingga masyarakat punya seleksivitas. Yang penting kesadaran politik itu jadi yang penting tak salah pilih. Misal tak karena satu karung beras atau satu bungkus indomie," ucap dia.


Terkait kemungkinan digelarnya acara reuni serupa pada tahun depan, Kapitra tak memberikan tanggapan. Dia mengatakan tahun depan sebagai tahun kompetisi untuk pemilihan di legislatif dan eksekutif.

"Untuk tahun ke depan, adalah tahun kompetisi. Untuk menentukan langkah-langkah bangsa ini ke depan, baik untuk pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, maupun pemilihan eksekutif, pilpres," ujarnya.


"Di situlah tangan Tuhan bermain di atas tangan-tangan rakyat. Maka suara rakyat, vox populi vox dei. Suara rakyat jadi suara tuhan," sambung pria yang juga jadi pengacara Habib Rizieq ini.
(jbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed