Pantauan detikcom di lokasi, Jumat (1/12/2017), hujan yang berhenti sejak Rabu (29/11) kemarin diikuti dengan berkurangnya aliran lahar dingin. Alhasil, bebatuan yang terbawa bisa dilihat dan ukurannya cukup besar.
Foto: Prins David Saut/detikcom |
Ukuran bebatuan yang dihanyutkan lahar dingin mulai yang berdiameter 20 cm hingga 200 cm. Tentu beratnya mencapai ratusan kilogram, namun tetap saja hanyut oleh aliran lahar yang membawa material abu dari Gunung Agung.
Namun bebatuan itu bukanlah dari letusan Gunung Agung akhir pekan lalu. Bebatuan itu merupakan hasil letusan gunung api setinggi 3.142 mdpl tersebut pada 1963.
Foto: Prins David Saut/detikcom |
Sementara itu, Sungai Yeh Sah diketahui kering selama beberapa tahun sebelum lahar dingin terjadi. Batang-batang pohon berdiameter 10 cm hingga 30 cm juga tampak di sisa-sisa aliran lahar dingin.
Batang-batang pohon itu patah karena aliran lahar dingin membuatnya bertabrakan dengan berbagai material, seperti bebatuan, infrastruktur, dan pohon-pohon. Sedimen lumpur setebal hingga 50 cm terlihat menumpuk di bantaran sungai hingga persawahan yang dekat dengan bibir sungai.
Foto: Prins David Saut/detikcom |
Sisa-sisa lahar dingin ini juga menjadi tontonan warga dan pengendara yang melintas. Mereka cukup terkejut dengan ukuran bebatuan yang dihanyutkan oleh aliran lahar dingin.
"Besar-besar batunya, kalau tidak lihat sendiri, saya mana percaya aliran lahar dingin dari hujan bisa bawa batu sebesar pinggang orang dewasa yang ada di bawah jembatan itu," kata salah satu pengendara yang melintas bernama Sudira. (vid/jor)












































Foto: Prins David Saut/detikcom
Foto: Prins David Saut/detikcom
Foto: Prins David Saut/detikcom