DetikNews
Jumat 01 Desember 2017, 11:01 WIB

Kecemasan Nelayan Karangasem Jika Gunung Agung Erupsi Lebih Besar

Prins David Saut - detikNews
Kecemasan Nelayan Karangasem Jika Gunung Agung Erupsi Lebih Besar Nelayan Karangasem cemas jika erupsi Gunung Agung lebih besar. (Prins David Saut/detikcom)
FOKUS BERITA: Erupsi Gunung Agung
Jakarta - Nelayan-nelayan di Amed, Karangasem, tidak terlalu mengkhawatirkan letusan Gunung Agung. Namun mereka mencemaskan dampak sosial-ekonomi andai ada letusan lebih besar terjadi.

Salah seorang nelayan bernama Gonta mengatakan keresahan terbesar dari dampak sosial-ekonomi jika Gunung Agung meletus lebih besar ialah soal harga ikan. Menurutnya, nelayan di Karangasem takut jika harga ikan turun drastis akibat letusan yang tidak diketahui kapan akan terjadi itu.

"Paling mengkhawatirkan di sini harga ikan. Tidak meletus saja harga ikan kalau banyak itu turun seketika di tengkulak, dari Rp 2.500 per kilogram bisa jadi Rp 300 per kilogram. Itu yang bikin nelayan tidak bisa dapat untung. Bagaimana kalau meletus?" ucap Gonta saat berbincang dengan detikcom, Jumat (1/12/2017).

Kecemasan Nelayan Karangasem Jika Gunung Agung Erupsi Lebih BesarNelayan Karangasem cemas jika erupsi Gunung Agung lebih besar. (Prins David Saut/detikcom)

[Gambas:Video 20detik]


Setelah Gunung Agung mengalami erupsi pekan lalu, nelayan di Karangasem, dikatakan Gonta, masih beraktivitas lantaran lokasi mereka mencari nafkah jauh dari Gunung Agung. Walau tetap beraktivitas, Gonta mengatakan, dampak sosial-ekonomi telah dirasakan nelayan akibat erupsi Gunung Agung, yaitu berkurangnya pembeli hingga sepinya turis yang berada 15 km di sisi timur Gunung Agung.

"Kalau ikan, nelayan kadang cari ikan tongkol dan ada juga yang cari ikan dasar. Yang cari ikan dasar itu mulai susah dijual karena tidak ada pembeli. Nggak tahu kenapa ikan dasar nggak ada yang beli, mungkin karena dampak di pariwisata, jadi jarang yang beli. Tapi nelayan terpengaruh karena, kalau tidak melaut, tidak makan," jelas Gonta.

Selain itu, nelayan juga mengkhawatirkan pasokan BBM untuk kapal-kapal mereka jika Gunung Agung meletus lebih besar. Tak ada BBM berarti tidak ada penghasilan untuk sehari-hari.

"Kalau itu sampai besar meletus seperti 1963, jual ikannya pasti susah. Kita jual ikan ke Klungkung, kalau itu tutup (terisolasi lahar) jadi susah kita jual ikan dan tidak ada yang beli," ungkapnya.

"Kalau jual ke Lombok, masalahnya minyak (BBM). Ke sana itu 3-4 jam, belum tentu bisa ke sana karena susah cari minyak di sini. Itu yang menjadi masalah bagi kita di sini," pungkas Gonta.
(vid/gbr)
FOKUS BERITA: Erupsi Gunung Agung
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed