DetikNews
Rabu 29 November 2017, 19:42 WIB

Saat Mobil Ganjar Berhenti di Depan Rumah Reyot

Muhammad Idris - detikNews
Saat Mobil Ganjar Berhenti di Depan Rumah Reyot Foto: dok. Pemprov Jateng
Grobogan - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hari ini menyambangi Kabupaten Grobogan untuk melakukan rangkaian kunjungan kerja. Dalam perjalanannya menuju ekowisata Ujung Kendeng, iring-iringan mobil dinasnya tiba-tiba berhenti persis di depan sebuah rumah gubuk di Desa Njenengan, Kecamatan Klambu.

Gubernur berambut putih itu kemudian turun dari mobil. Jelas hal ini membuat warga dan ajudan yang melihat kebingungan, karena hal ini tidak ada dalam agenda Gubernur.

Ganjar lalu melangkah menuju rumah sederhana itu. Pintu rumah masih tertutup. Ia pun sesekali menengok ke dalam dan mengucapkan salam. Namun tak juga ada jawaban.

Sejumlah warga yang mengetahui kemudian berdatangan dan bersalaman dengan Ganjar. Warga pun mengatakan si pemilik rumah tengah pergi ke ladang dan rumahnya kosong.

Namun tak berselang lama, seorang ibu paruh baya berlari kecil menuju rumah itu. Dengan menggendong balita dan menggandeng anak, ibu bernama Listiyati itu lalu buru-buru membukakan pintu untuk Ganjar.

Raut wajah Listiyati tampak kebingungan dan kaget. Ia tak menyangka rumahnya akan didatangi orang nomor satu di Jawa Tengah.

"Monggo mlebet, Pak, ngapunten griyone reyot. Ngapunten garwo kulo tasih teng wono," ujar Listiyati dalam bahasa Jawa.

Dia mengutarakan maksudnya, yakni mempersilakan Ganjar masuk, dan meminta maaf karena rumahnya reyot. Ia juga mengatakan suaminya masih di ladang.

Ganjar lalu masuk rumah dan melihat kondisi rumah yang ditempati Listiyati bersama suaminya, Sutrisman. Masuk hingga ke dalam dan melihat sekeliling, kondisi rumah itu membuat Ganjar mengelus dada karena tidak layak.
Saat Mobil Ganjar Berhenti di Depan Rumah ReyotFoto: dok. Pemprov Jateng

Dindingnya terbuat dari bilik bambu dengan lantai berupa tanah dan atap yang langsung genteng. Di bagian dapur, terlihat tungku yang terbuat dari tanah liat dengan kondisi apa adanya.

"Purun kulo bantu mboten? Omahe didandani kersane luwih apik. (Mau saya bantu tidak? Nanti rumahnya diperbaiki agar lebih bagus)," ucap Ganjar kepada si ibu.

"Tapi nggih bantuane ora akeh, mengko gotong royong yo, warga lain ngrewangi (Tapi ya bantuan tidak banyak, nanti warga lain membantu gotong-royong ya)," tambah Ganjar.

Sejenak Listiyati tertegun dan matanya berkaca-kaca. Ia kemudian menyalami Ganjar dan mengucapkan terima kasih hingga beberapa kali.

"Purun, Pak, maturnuwun (mau, Pak, terima kasih)," ungkapnya lirih.

Ganjar mengaku tergerak saat melintas di depan rumah itu, yang ternyata masuk dalam rumah tak layak huni. "Saat saya masuk benar, kondisinya memprihatinkan. Bocor sana sini saat hujan dan tidak sehat," ujarnya.

Rumah semacam itu, ungkap Ganjar, memang masih ada di Jawa Tengah. Karena itu, ia meminta semua pihak yang berwenang melakukan pendataan secara valid agar bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran dan bisa dilakukan dengan cepat.

"Ini harus cepat, tidak bisa membiarkan masyarakat hidup seperti itu. Kalau sulit soal anggaran, saya bantu dengan dana pribadi," tandas Ganjar.

Selain menggunakan dana pribadi Ganjar, nantinya perbaikan juga akan diusulkan ada pembiayaan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jateng.
(idr/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed