Bahkan untuk makanan hewan ternak, mereka tak mengambil rumput. Mereka khawatir daun dan tanaman yang terkena hujan abu beracun.
"Kami tidak berani makan sayur dan tanaman kebun lainnya. Khawatir beracun. Sementara warga makan mi instan saja. Atau buah yang ada kulitnya," ujar Wayan Wirya, warga Desa Pemuteran, Kecamatan Rendang, Karangasem, kepada detikcom, Rabu (29/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Takut mati nanti. Khawatir juga kalau kita kasih makanan yang kena debu. Takut beracun," tambahnya.
Warga sekitar Desa Pemuteran, kata Wayan, mengaku merugi setelah menanam tanaman di sawah dan di ladang. Karena kondisi saat ini, tanaman tersebut layu dan mati. Bahkan cabai yang ditanam beberapa warga saat ini sudah mulai berbuah. Namun sayang, buah cabai tersebut rontok setelah terkena abu vulkanik Gunung Agung.
"Ada yang rugi mulai Rp 5 juta hingga Rp 25 juta. Mereka tanam setelah peringatan status gunung turun. Kami mengira tidak ada lagi kenaikan status. Tidak tahunnya jadi seperti ini," pungkasnya.
Warga Desa Pemuteran, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, merasakan hujan abu akibat erupsi Gunung Agung, Rabu (29/11). Sejak pagi, desa yang terletak sekitar 9,3 kilometer itu tertutup abu vulkanik. (asp/asp)










































