7 Bocah Jadi Korban Pembunuhan Berantai di Pekanbaru
Sabtu, 04 Jun 2005 01:24 WIB
Pekanbaru -
Poltabes Pekanbaru belum berhasil mengungkap pembunuhan berantai tujuh bocah yang terjadi sejak 2003 lalu. Sadis! Saat ini, enam mayat sudah ditemukan. Sedang satu bocah lainnya belum ditemukan mayatnya.Pihak kepolisian, akhir pekan lalu menemukan dua tengkorak anak-anak berjenis kelamin laki-laki. Kerangka itu ditemukan di tengah lahan kosong tertutup semak-semak tak jauh dari SLTP 20 Pekanbaru, Riau. Kondisi mayat dan hasil penyidikan polisi menemukan kesamaan dengan empat mayat anak laki-laki lain korban pembunuhan dengan kekerasan. Tapi, pihak kepolisian belum bisa mengatakan mereka sebagai korban pembunuhan dan tindak kekerasan seksual (sodomi). Dua jenazah anak-anak tersebut, diidentifikasi sebagai Ibrahim (7) dan Saiful (7). Keduanya, murid SD 039 Kompleks Pemda, Kelurahan Delima, Panam, Kecamatan Tampan yang hilang pertengahan Februari lalu. "Ibrahim dan Saiful ditemukan dalam keadaan masih mengenakan baju muslim seragam sekolah dan sepatu," kata Kepala Kepolisian Sektor Tampan Ajun Komisaris Polisi S Manullang kepada detikcom, Jumat (3/6/2005) di ruang kerjanya di Panam, Pekanbaru. Pada Februari 2004, kasus yang sama kembali terulang dan korban masih warga Sidomulyo Timur. Korban, Bayu Prayuda (9) ditemukan tanpa busana di Jalan Soekarno- Hatta. Selanjutnya, Kamis (21/4/2005), seorang anak laki-laki usia 10 tahun, Khairil Anwar, ditemukan tewas. Khairil Anwar yang ditemukan di Jalan Gelora, Pekanbaru, bertempat tinggal di daerah Panam, masih berdekatan wilayah dengan tiga korban sebelumnya. Saat ini, polisi tengah memfokuskan pencarian atas diri Irfan Zukri yang hilang sejak April lalu. Kapolsek menjelaskan, dua kasus pertama terjadi November 2003 masih dalam suasana lebaran. Jumadi (9) dan Sabri/Buyung (9) warga Sidomulyo Timur, Pekanbaru yang dilaporkan hilang oleh orang tuanya sejak satu hari sebelum ditemukan tidak bernyawa lagi. Keduanya ditemukan warga di dalam parit yang berlokasi berdekatan dengan kompleks kediaman Gubernur Riau di belakang ruas Jalan Diponegoro. Sementara itu, Murniati (36) ibu kandung Irfan yang hingga kini dilaporkan hilang mengatakan, yakin anaknya menjadi salah satu korban kasus pembunuhan berantai tersebut. "Saya hanya berharap kiranya jenazah anak saya segera ditemukan," katanya. Kepala Poltabes Pekanbaru AKBP Elan Subilan menegaskan, penyelesaian kasus ini menjadi prioritas segenap jajarannya. Hal ini berkaitan dengan keamanan dan keselamatan masyarakat yang terganggu. "Ketakutan jelas melanda masyarakat. Mereka, antara lain, semakin ketat menjaga anak-anak mereka usia sekolah dasar dengan rutin mengantar jemput dalam setiap kegiatannya. Orang tua juga cenderung membatasi aktivitas anak di luar rumah," ujarnya.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































