Dinas Kesehatan Jawa Barat Selidiki Kematian Angga
Jumat, 03 Jun 2005 23:41 WIB
Bandung - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat menyiapkan tim untuk meneliti kematian Angga (4,5 tahun), bocah asal Taksimalaya yang meninggal setelah mendapatkan vaksin polio.Kematian Angga, masih menyimpan misteri. Angga meninggal 3 jam setelah diberikan vaksin polio pada tanggal 31 Mei 2005. Banyak spekulasi, Angga meninggal disebabkan oleh pemberian vaksin polio tersebut. "Kita siapkan tim yang akan meneliti kematian Angga itu," kata Ketua Ikatan Pasca Imunisasi atau Komda KIPI Jabar, Suganda Tanuwidjaja di RS Hasan Sadikin, Jumat (3/6/2005) saat ditemui oleh sejumlah wartawan di Bandung. Menurutnya, saat ini belum dipastikan kebenaran kematian Angga apakah disebabkan oleh pemberian vaksin polio itu atau bukan. "Vaksin polio itu aman. Kita analisa kasus itu, bukan karena vaksin polio. Kita kumpulkan data dulu," ungkapnya. Suganda Tanuwidjaja memperkirakan, kematian Angga bukan disebabkan oleh pemberian vaksin polio. Menurutnya, virus yang diteteskan sewaktu pemberian polio secara massal itu sudah dijinakkan. Saat ini, menurutnya, di dunia tidak ditemukan kasus meninggal akibat pemberian vaksin polio. "Tujuh hari sebelum diberikan vaksin polio, Angga mengalami demam tinggi," ungkapnya. Rencananya Sabtu (4/6/2005) besok, gabungan tim dari perwakilan RSHS (bagian kesehatan anak) sebanyak 4 orang dan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jabar 1 orang akan mengumpulkan verbal otopsi terhadap kasus Angga. Verbal otopsi ini salah satu tehnik kedokteran dalam mengumpulkan data medis melalui wawancara. Beberapa yang akan dimintai keterangan ini antara lain, kedua orang tua Angga, catatan medis Angga, termasuk petugas operasional yang memberikan vaksinasi pada tanggal 31 Mei 2005. "Tadinya kita mau mengotopsi korban. Namun keluarganya tak mengizinkan otopsi itu dilaksanakan," ujarnya. Suganda Tanuwidjaja juga menilai bahwa cara kerja yang dilakukan oleh tim petugas operasional saat pemberian vaksinasi polio kepada Angga prosedurnya sudah benar. Menurutnya, kemunculan kasus setelah diberikan vaksin di Indonesia bukan pertama kali muncul. Sebelumnya terjadi pada vaksinasi tahun 1995, 1996, 1997, dan 2002. Beberapa kasus yang muncul saat itu berupa sakit, mencret, kejang-kejang. Dikatakannya, hanya 2 kasus berat yang ditemukan setelah pemberian vaksin secara massal itu. Kasus ini terjadi pada anak di Kalimantan. Kedua anak tersebut mengalami kelumpuhan. Kedua kasus tersebut tengah ditangani oleh sebuah tim peneliti dari kedokteran London, Inggris. Hingga kini, ujarnya, belum didapatkan hasil laboratorium dari pengkajian kedua kasus tersebut. Selain kematian Angga, beberapa laporan yang masuk juga tengah diselidiki. Di antaranya, laporan yang datang dari Purwakarta, Jawa Barat. Di sana ditemukan empat kasus anak yang mengalami sakit setelah pemberian vaksin polio. Walaupun tidak meninggal, keempat korban tersebut sekarang berada dalam perawatan RS Banyu Asih Purwakarta. Keempat anak yang sakit tersebut adalah Arif, Nuryanti, Ardela dan Bintang. Setelah diberikan vaksin, keempat anak ini mengalami sakit berupa mencret, muntah, pilek, panas dan mengalami kejang. "Salah satunya diketahui mengalami ISPA. Kalau ketiga anak yang lainnya sebelumnya mengalami sakit flu. Sakitnya, mungkin saat berada di pos imunisasinya," ungkapnya.
(san/)











































