Menumpang kereta modifikasi, Cak Imin didampingi Ketua DPW PKB Jawa Timur Halim Iskandar, bersama 135 pasangan berjalan menuju rute kirab berjarak sekitar 500 meter dari lokasi awal. Terik matahari tak menyurutkan keceriaan para pasangan, sebentar lagi sah menjadi suami-istri.
"Menikah sekali saja sudah bahagia, apalagi dua kali," kata Muhaimin disambut gelak tawa di lokasi, Minggu (26/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istbath nikah diikuti 135 pasangan ini digelar Fatayat NU Jawa Timur bersama pengurus wilayah Kabupaten Malang.
"Ini acaranya Fatayat Mantu. Dengan disahkannya status perkawinan, maka akan mempermudah pengurusan administrasi bagi keluarga masing-masing termasuk untuk membuat akte lahir dan daftar Kartu Keluarga keturunan mereka," ujar Cak Imin.
"Anak-anak juga mulai bisa mengakses KIS (Kartu Indonesia Sehat) dan KIP (Kartu Indonesia Pintar), BPJS dan lainnya. Sehingga kualitas hidup mereka meningkat. Demikian juga kualitas kemesraan kalian berdua," sambung Panglima Santri Nusantara ini.
Di Indonesia, kata Cak Imin, memang masih banyak yang belum punya buku nikah dengan berbagai alasan. Mulai dari ekonomi sampai kurang adanya kesadaran mengurus surat atau dokumen nikah.
"Di Malang masih ada banyak pasutri belum memiliki buku nikah secara resmi, di Jakarta malah lebih banyak lagi," sebutnya.
Hadir pada kesempatan itu Wali Kota Malang Abah Anton, Wakil Bupati Malang Sanusi, Ketua DPRD Jawa Timur Abdul Halim Iskandar, sejumlah anggota DPR dan DPRD PKB, serta para keluarga pasangan suami-istri Itsbat Nikah secara hukum negara resmi menjadi suami istri.
'Mantu' massal ini cukup memberikan arti bagi para pasangan yang sudah lama menjalin bahtera rumah tangga.
Manan (75) dan Sugiarti (65), contohnya. Salah satu pasangan mengaku bersyukur yang akhirnya bisa menikah secara resmi. Keduanya mengaku, sudah hidup bersama selama 28 tahun.
"Saat mengurus surat ada kekurangan hingga tak selesai," ujar Manan. (asp/asp)










































