DetikNews
Jumat 24 November 2017, 10:29 WIB

Pengacara Minta Polisi Lakukan Tes Kejiwaan terhadap dr Helmi

Mei Amelia R - detikNews
Pengacara Minta Polisi Lakukan Tes Kejiwaan terhadap dr Helmi Dokter Ryan Helmi, tersangka penembak mati istrinya. (Mei Amelia/detikcom)
Jakarta - Tim penasihat hukum menyebut dr Ryan Helmi, tersangka penembak mati istrinya, dr Letty Sultri, mengalami gangguan jiwa. Atas hal ini, tim penasihat hukum meminta polisi memeriksa kejiwaan dr Helmi.

"Kami mendesak kepada penyidik Polda Metro Jaya untuk mendalami hal ini dan segera melakukan pemeriksaan kejiwaan secara komprehensif kepada dr Helmi," kata Eko Novriansyah Putra, salah satu anggota tim penasihat hukum dr Helmi, kepada detikcom, Jumat (24/11/2017).

Eko mengatakan pihaknya menghormati proses hukum dan mendukung penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menuntaskan perkara tersebut sesuai ketentuan yang berlaku dan fakta-fakta hukum yang ada.

"Agar perkara ini menjadi terang benderang. Kami dan keluarga pasrah dan menyerahkan apa pun atas hasil penegakan hukum ini sesuai fakta yang terungkap di persidangan nantinya," lanjut Eko.

Apakah dengan kondisi tersebut, menurut tim penasihat hukum, dr Helmi tidak patut mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum?

"Kami belum ke arah sana karena proses masih panjang dan biarlah proses berjalan. Kami lebih fokus kepada mengumpulkan dan membantu dalam proses ini agar fakta-fakta terungkap dan terang benderang," jawab Eko.

Eko menambahkan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada majelis hakim dalam persidangan nanti, apakah kliennya secara kejiwaan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya atau tidak.

"Soal hukuman, kami serahkan sepenuhnya nanti ke majelis dan silakan hukuman setimpal dengan fakta-fakta persidangan," tambahnya.

Sebelumnya, Eko membeberkan riwayat gangguan kejiwaan yang dialami kliennya. Menurut Eko, kliennya mengalami depresi berat setelah menerima relaas gugatan cerai istrinya dari Pengadilan Agama Jakarta Timur pada 3 Juli 2017.

Pertengahan Juli 2017, setelah menerima relaas gugatan cerai itu, Helmi berkonsultasi dengan Prof Sunarko dan diberikan obat-obatan untuk mengobati depresinya itu. Tetapi jauh sebelum itu, Helmi pernah berkonsultasi dengan ahli psikologi Prof Sunarko Kasran, SpS, SpKJ. Sejak 1999, dr Helmi pernah ditangani Prof Sunarko untuk mengatasi ketidakstabilan kejiwaannya itu.

Kliennya juga pernah berkonsultasi dengan dr Maria Poluan, SpKJ, ahli psikologi hipnoterapi kejiwaan RSPAD Gatot Subroto Jakarta, pada Juli-Agustus 2017. Selama konsultasi, Helmi dihipnoterapi hingga diberikan obat-obatan. Menurutnya pula, dari hasil analisis dr Maria itu, dr Helmi dinyatakan mengalami gangguan jiwa 'psikotik borderline'.

"Atas hal ini, tim penasihat hukum melakukan penelusuran dengan menemui dan kontak secara langsung pada kedua nama ahli tersebut. Ternyata Prof Sunarko Kasran dan dr Maria Pouluan membenarkan bahwa dr Helmi memang telah konsultasi dan berobat kepada mereka atas gangguan kejiwaannya itu," tutur Eko.
(mei/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed