Letjen Ibrahim, Pendiri RM Rindu Alam Puncak yang Akan Dibongkar

Mukhlis Dinillah - detikNews
Jumat, 24 Nov 2017 09:53 WIB
Bogor - Nama Letnan Jenderal (Letjen) Ibrahim Adjie sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Sosok perwira tinggi Indonesia tersebut melegenda atas kiprahnya saat masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Dikutip dari berbagai sumber, Ibrahim Adjie lahir di Bogor, Jawa Barat 24 Februari 1924. Ia pernah menjadi anggota pasukan Siliwangi yang melakukan long march karena Perjanjian Renville yang mengecilkan wilayah Indonesia tahun 1948.

Dalam aksi long march itu, ia bersama pasukan Silawangi lainnya kembali ke Jawa Barat setahun kemudian. Kembalinya pasukan Siliwangi diwarnai pemberontakan terhadap pemerintah oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DITII).



Pemberontakan oleh kelompok yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoerwirjo berlangsung selama puluhan tahun. Bersamaan pemberontakan DITII masih berlangsung Ibrahim Adjie diangkat menjadi Panglima Kodam III/Siliwangi di tahun 1960.

"Betul, Jendral Ibrahim Adjie pernah menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi pada tahun 1960 - 1966," kata Kapendam III/Siliwangi Kolonel Arh Desi Ariyanto kepada detikcom, Kamis (23/11/2017).

Jabatan baru, tugas baru. Ibrahim Adjie langsung mendapatkan mandat penting dari Presiden Sukarno untuk melakukan operasi militer menangkap gembong DITII Kartosoerwirjo yang tak lain mantan rekan seperjuangan Sukarno.

Letjen Ibrahim, Pendiri RM Rindu Alam Puncak yang Akan DibongkarFoto: RM Rindu Alam (Farhan-detikcom)

Sukarno dan Kartosoewirjo memang pernah berbareng bergerak ketika Indonesia masih dalam cengkeraman pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keduanya sempat tinggal bersama di kediaman pemimpin besar Sarekat Islam (SI), H.O.S. Tjokroaminoto, di Surabaya.

Pencarian Kartosoewirjo bersama pengikutnya cukup sulit lantaran mereka bersembunyi di pedalaman tanah Sunda. Selama dua bulan pencarian, Kartosoewirjo beserta pengikutnyadiringkus di Gunung Rakutak, sekira 45 km selatan Bandung tahun 1962.

Kepercayaan Sukarno terhadap Ibrahim Adjie terus berlanjut hingga tahun 1965 - 1966 saat pergolakan politik yang disebabkan oleh Gerakan 30 September/PKI. Saat itu, Ibrahim Adjie diperintahkan untuk menjaga anak-anak Bung Karno dari ancaman teror.

Ibrahim Adjie disebut-sebut sebagai perwira tinggi Indonesia yang loyal terhadap Sukarno. Karena loyalitas tinggi itu, Ibrahim Adjie dilengserkan jabatannya pada tahun 1966 oleh oleh Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Pangkostrad.


Saat Bung Karno lengser, Soeharto yang diangkat sebagai presiden kedua Indonesia kala itu menjinakannya dengan menjadikannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Inggris pada 1966 – 1970. Ketika pensiun jadi dubes, ia aktif di bidang industri.

Ia mendirikan PT KDA dan telah membuat beberapa jalan dan yang paling terkenal di antaranya jalan Trans Barelang sepanjang 54 kilometer. Jalan itu terdapat enam jembatan antarpulau yang dikerjakan pihak Otoritas Batam.

Ibrahim Adjie wafat di RS Mount Elizabeth di Singapura pada 1999 lantaran mengidap stroke hingga akhir hayatnya. Kiprahnya yang cukup gemilang di Jawa Barat itu lalu menjadi nama sebuah jalan di Kota Bandung hingga kini.

Nama Ibrahim Adjie kembali terdengar setelah salah satu rumah makan legenda di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua, Bogor. Kabarnya Rumah Makan (RM) Rindu Alam yang berdiri tahun 1979 itu milik Letjen Ibrahim Adjien.

Kepala pelayan RM Rindu Alam Juanda mengatakan saat itu Ibrahim Adji telah memasuki masa pensiun setelah sempat menjabat Dubes Indonesia untuk Inggris. Ibrahim Adjie mendapat izin dari pemerintah karena memiliki kedekatan dengan Soeharto.

Sayangnya, RM Rindu Alam dalam waktu dekat hanya akan tinggal jadi kenangan. Sebab, Pemprov Jabar akan mengambil alih kembali lahan tersebut dan dijadikan Ruang Terbuka Hijau. (asp/asp)