DetikNews
Jumat 24 November 2017, 09:25 WIB

Cerita Hari, Lulus Kuliah Balik ke Desa dan Raup Rp 5 Miliar

M Iqbal - detikNews
Cerita Hari, Lulus Kuliah Balik ke Desa dan Raup Rp 5 Miliar
Serang - Bagi sebagian orang, selepas sarjana ramai-ramai menyerbu kota mencari pekerjaan. Tapi tidak bagi Hari Bowo (30), ia malah langsung balik ke desanya. Usahanya tak sia-sia karena ia kini memiliki bisnis dengan omzet Rp 5 miliar lebih/tahunnya. Bisnis apa?

Pemuda asal Cilegon, Banten itu punya mimpi membangun Indonesia lewat sektor agraria. Bertani dan berternak adalah jalan memaksimalkan potensi negara agraris agar dapat bersaing di era globalisasi.

Meski usianya terbilang masih muda, usahanya di bidang pertanian dan peternakan kini melejit berkat kerja kerasnya memanfaatkan potensi desa. Ia membangun Vila Ternak Cikerai dan mampu mempekerjakan sekitar 50 pemuda desa.

Baginya, pemuda adalah dia yang mampu berkarya dan bermanfaat bagi manusia. Potensi Indonesia dikenal sebagai negara agraris membuatnya tak terbuai dengan rayuan globalisasi yang hanya menyuguhkan sifat konsumtif dan menanggalkan produktifitas.

Kisah pria lulusan IPB 2009 itu terbilang cukup panjang hingga ia kebermanfaatan dari hasil peternakan. Pada 2009, ia lulus dari IPB dan dapat keberuntungan pergi ke Jerman mengikuti acara temu pemuda dari berbagai penjuru dunia.

Bowo membangun Vila Ternak Cikerai berawal dari usahanya di bidang peternakan. Di Kubang Bale, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, ia menyewa lahan untuk menernak kambing dengan pasar mereka yang ingin beraqiqah dan berkurban.

"Di situ saya sewa lahan 5 tahun dari 2009,waktu itu saya inget sekali masih omset di kisaran 60 juta, waktu itu belum ada sapi masih kambing biasa kapasitas 30 ekor," kisahnya.

Seiring berjalannya waktu, relasi pasar sudah terbangun dan orderan mulai membanjiri, ia merambah bisnis potong sapi. Namun, sektor itu justru tidak punya untung besar.

"Tapi seiring waktu kita terus berjalan, banyak mitra, banyak order, kita datangi beberapa DKM waktu itu masih fokus ke penjualan kurban dan waktu itu sempat kita melayani sapi potong tapi ternyata sapi potong kurang bagus cash flownya, mandek juga di sana Rp 150 juta tapi alhamdulillah sudah bisa kita tanganin jadi kita mencoba memfokuskan diri untuk kurban," tuturnya.

Bulan berganti, tahun berselang, ia coba kembangkan bisnis itu ke sektor pakan ternak. Limbah terigu ia beli dari pabrik pengolahan terigu dan ia daur ulang menjadi pakan ternak.

"Dari tahun ke tahun, dari 2009, 2010, 2011 kita mulai unit bisnis pakan ternak. Kita ambil limbah dari pabrik terigu kita olah untuk kita pakai sendiri. Sudah jalan di bisnis kurban, aqiqah juga jalan, pakan ternak juga jalan, lalu kita punya dreaming," kata dia.

Mimpi yang ia miliki terbilang sederhana, para pemuda tidak lupa dengan potensi negaranya yang dikenal sebagai negara agraris. Menurutnya, sektor pertanian dan peternakan bisa lebih menjanjikan apabila dikembangkan, apalagi oleh pemuda.

"Pemuda sekarang itu kan lupa akan sejarah bangsanya, apa sejarah bangsanya? Kita itu negara agraris. Artinya kita itu punya potensi di peternakan dan pertanian tapi saat ini pemuda lebih suka di kantor, lebih suka yang penting gua bisa beli," ungkap Bowo.

"Dia tidak memikirkan bahwa negara kita potensial untuk sebuah sektor peternakan dan pertanian, sehingga mereka lupa, yang penting bisa beli, akhirnya apa? Impor aja gampang nggak usah capek-capek gemukin sapi, beli daging beres, nggak usah capek-capek nanem padi, beli beras aja beres," sambungnya.

Mimpinya punya lahan sebagai pusat studi di bidang pertanian dan peternakan terwujud 2013 lalu. Ia ingin potensi di dua sektor itu kembali diminati oleh masyarakat.

"Maka saya punya dreaming: saya pengen punya tempat farming saya ke depan itu menjadi sebuah studi (bagi) orang-orang yang kembali minat pada pertanian dan peternakan. Akhirnya di 2013 saya nabung tanah di Cikerai ini, saya sudah beli tanah di Cikerai ini, waktu itu masih 2.500 meter persegi, waktu itu masih murah, karena sekarang sudah melonjak (harga tanah)," jelasnya.

Bowo mengungkapkan, mimpi itu bukan semata-mata datang kemudian terwujud, ia ingat pesan dari salah seorang mentornya di Jerman bahwa pemuda harus peduli terhadap masa depan. Dengan catatan, pemuda harus mampu menggali potensi negerinya.

"Apa aware masa depan? Jangan sampai masyarakat yang ada wabil khusus dia bilang ke negara-negara berkembang atau negara agraris jangan sampai masyarakat yang punya penduduknya banyak itu hanya menjadi market bagi ornag-orang yang punya sumber daya alam wabil khusus di pangan dan peternakan. Jadi jangan sampai Indonesia ini SDA-nya kaya, alamnya luas tapi semuanya beli," ungkap Bowo.

Vila Ternak Cikerai yang ia bangun kini menjadi pusat studi bagi anak-anak sekolah di sekitar Cilegon dan Serang. Di sektor bisnis, hari raya Idul Adha kemarin ia mampu meraup omzet Rp 5 miliar dari hasil penjualan sapi dan kambing.

Hasil itu ia dapatkan dari kegigihannya membangun bisnis peternakan sekaligus laboratorium pendidikan bagi mereka yang mau belajar bertani dan beternak. Hasil itu tak lepas dari bantuan tangan pemuda-pemudi Desa Cikerai yang ia latih terlebih dahulu sebelum terjun sebagai pemandu wisata Vila Ternak Cikerai.

Kini, Vila Ternak Cikerai hasil karya anak muda bernama Hari Bowo jadi pusat pendidikan dan wisata alternatif di tengah pesatnya pertumbuhan industri di Kota Cilegon. Alam nan asri dikelilingi perbukitan membuat Vila Ternak Cikerai banyak dikunjungi oleh masyarakat.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed