DetikNews
Kamis 23 November 2017, 16:08 WIB

Hadhramis di Indonesia, dari Pengaruh Ulama sampai Teroris

Aryo Bhawono - detikNews
Hadhramis di Indonesia, dari Pengaruh Ulama sampai Teroris Habib M Luthfi bin Yahya dari Pekalongan dalam haul Sunan Ampel ke-568 di Surabaya, 13 Mei 2017. (Dok. Kemenag)
Jakarta -

Kehadiran kaum Hadhramis dari daratan Arab sudah mewarnai Indonesia selama ratusan tahun. Mereka membawa pengaruh religi sangat besar hingga kini, dari berperan soal kekuasaan sampai menjadi teroris.

Hadhramis adalah keturunan orang-orang Arab yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Mereka datang ke Indonesia sejak abad ke-18. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menyebutkan mereka menetap di Pulau Jawa pada 1820 dan kawasan Indonesia timur pada 1970-an.

"Sejak 1870, dimulainya pelayaran kapal uap, kedatangan mereka makin meningkat. Mereka cepat berasimilasi dengan penduduk setempat," jelas Lukman ketika memberi sambutan dalam Konferensi Internasional tentang Dinamika Hadhramis di Indonesia di Hotel Royal, Kuningan, Rabu (22/11/2017).

Mereka datang tanpa membawa istri dan menikahi perempuan sekitar serta membentuk keluarga. Anak-anak mereka biasa mengambil nasab dari ayah.

Kehadiran kaum Hadhramis itu memberikan pengaruh besar dalam kehidupan beragama di Indonesia. Kelompok sayyid, keturunan Nabi Muhammad, datang setelah ada dorongan dari agamawan dan ahli hukum. Masyarakat pun menganggap mereka sebagai sufi keramat.

"Kita mengenal nama seperti Sayyid Usman bin Yahya yang menjadi mufti Betawi," jelasnya.

Selain itu, beberapa ulama Hadhramis juga meninggalkan jejak penting di Indonesia, seperti Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Habib Ali Kwitang) dan Habib Ali bin Husein Al Attas (Habib Ali Bungur). Mereka memberikan pengaruh keagamaan besar di Indonesia.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, menyebutkan pengaruh Hadhramis di Indonesia tak sekadar soal kehidupan beragama. Keterlibatan mereka dalam ormas besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memberikan peran sosial yang cukup besar. "Hadhramis menguasai organisasi mainstream yang berperan dalam bidang sosial," ucapnya.

Selain ormas, Hadhramis membentuk majelis zikir yang biasa mengumpulkan massa besar di luar ruangan dan jalanan. Sebut saja Majelis Rasulullah, yang dipimpin oleh Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa dan Majelis Dzikir Qutbil Anfas Syarif, serta lainnya.

Beberapa keturunan Hadhramis juga ada yang muncul sebagai pemikir Islam. Mereka terlibat dalam birokrasi, pemerintahan, dan kekuasaan. Pemikiran mereka tergolong liberal. Beberapa kalangan masuk gerakan ini melalui NGO.

Selain itu, kehadiran ulama Hadhramis memberikan pengaruh besar pada kelompok-kelompok teroris. Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, kata Azyumardi, juga berasal dari kalangan Hadhramis. Ia menjadi pembentuk Jamaah Islamiyah dan memimpin Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI). Dua organisasi ini digolongkan sebagai sayap teroris sebelum berkembangnya ISIS.

Hadhramis biasanya menjauhkan diri dari politik praktis. Namun setahun belakangan, mereka muncul sebagai penggerak Islam populis. Azyumardi menyebutkan Rizieq Syihab, yang memimpin Front Pembela Islam, memberikan pengaruh besar dalam Pilgub DKI Jakarta lalu.

"Gerakan populis ini biasanya membawa apa yang terjadi di Arab sana, seperti konflik Iran-Arab yang membuat mereka anti-Syiah. Sebenarnya ada juga yang pro-Syiah, mereka juga terbelah," jelasnya.

Guru besar University of Singapore, Syed Farid Al Attas, menyebutkan studi mengenai Hadhramis ini tergolong baru. Menurutnya, studi Hadhramis baru dilakukan sekitar 1993 di Arab and African Studies di London University, Inggris. Persebaran Hadhramis ini dipengaruhi oleh kekuasaan Inggris dan runtuhnya Ottoman.

Pengaruh Hadhramis di Asia Tenggara sendiri sangat menarik dipelajari karena kekhasannya. Mereka memberikan pengaruh pada kehidupan agama, sosial, ataupun politik. "Sebenarnya studi ini masih dikembangkan dan tergolong baru, makanya sangat menarik," tuturnya.




(ayo/jat)
fpi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed