DetikNews
Kamis 23 November 2017, 13:51 WIB

Beda Cerita dan Skrip Film yang Bikin Deepika Terancam Dipenggal

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Beda Cerita dan Skrip Film yang Bikin Deepika Terancam Dipenggal Deepika Padukone di film 'Padmavati' (Imdb)
Jakarta - Aktris cantik Bollywood, Deepika Padukone, menjadi incaran kelompok kanan India lantaran memerankan sosok Padmavati dalam film garapan Sanjay Leela Bhansali. Film berjudul 'Padmavati' itu dinilai melecehkan sosok ratu dari kaum Rajput.

Ancaman terhadap Deepika muncul dari pemimpin Partai Bharatiya Janata untuk wilayah Haryana, Kunwar Suraj Pal Ammu. Dia menyerukan agar Deepika dan sutradara Bhansali dipenggal. Imbalannya adalah 10 crore rupee atau 100 juta rupee (Rp 20,6 miliar) untuk siapa saja yang bisa memenggal keduanya.



Menyusul provokasi itu, polisi menjaga ketat kediaman keluarga Deepika. Alasan Ammu menyerukan pemenggalan itu adalah film 'Padmavati' dinilai menodai citra raja dan ratu dari Rajput.

Film 'Padmavati' garapan Bhansali ini didasari puisi penyair muslim India ternama pada abad ke-16, Muhammad Jayasi. Sedangkan kisah tentang Padmavati ada di abad ke-14, atau 2 abad sebelum tulisan karya Jayasi.
Deepika Padukone.Deepika Padukone. (Shaun Curry/AFP/Getty Images)

Dalam buku 'Cultural Leaders of India - Devotional Poets and Mystics: Part - 2' oleh Madan Gopal (2017), ditulis bahwa Jayasi lahir pada 1493 dan meninggal dunia pada 1542. Puisi Jayasi yang ternama berjudul 'Padmavat', yang bercerita tentang Ratu (Rani) Padmini.

Jayasi menyelipkan romansa dalam puisinya itu. Dia juga memadukan elemen tradisional India seperti jatuh cinta setelah melihat lukisan atau bermimpi akan kekasihnya, atau bertemu kekasih di kuil, hingga soal perbincangan dengan burung beo (talking parrot).

Jayasi mendeskripsikan Padmavati atau Padmini sebagai putri Raja Gandharva Sen dari kerajaan Simhala. Padmini diceritakan memiliki beo kesayangan bernama Hiraman, yang ingin membantunya mencarikan pujaan hati.

Sementara itu, dalam cuplikan film 'Padmavati' disebut ada adegan romansa antara Padmini dan Sultan Alauddin Khilji. Cuplikan cerita inilah yang membuat kaum kanan India marah. Sebab, Padmini seharusnya digambarkan sebagai istri yang setia.



Alauddin Khilji merupakan Sultan Delhi yang menginvasi kerajaan Chittor. Padmini merupakan permaisuri Raja Chittor, Ratansen.

Dalam buku 'History of Meywar', yang ditulis Capt JC Brookes pada 1859, Alauddin berniat menyerang Chittor (ditulis Chittore) pada akhir abad ke-13. Dalam invasi tersebut, Alauddin kemudian melihat kecantikan Padmini dan berniat mempersuntingnya.

Padmini merupakan istri yang setia bagi Ratansen, sehingga dia mempertahankan kehormatannya. Jayendra P Sanghani dalam bukunya yang berjudul 'The Queens Tragedy' (2014) juga menggambarkan Padmini sebagai sosok yang sangat cantik, terhormat, dan pemberani.

Sanghani kemudian menggambarkan Ratansen (Ratan Singh) sebagai raja yang berjiwa kesatria dari Mewar (Meywar). Ratansen memimpin Chittor pada 1302-1303 Masehi.



Dikutip dari berbagai sumber, Alauddin menginvasi Chittor pada 1303. Ratan Singh atau Ratansen kalah dalam invasi tersebut.

Namun ada hal yang kemudian membuat sosok Padmini amat dihormati kaum Rajpur. Ketika invasi berlangsung, Padmini atau Padmavati memimpin ratusan perempuan Chittor untuk melakukan 'Jauhar' atau menerjunkan diri ke dalam api unggun untuk mempertahankan kehormatan mereka. Tujuan Padmini adalah agar dirinya dan wanita-wanita Rajpur tidak jatuh ke tangan pasukan Alaudin.

Sementara Padmini memimpin Jauhar, Ratansen dan pasukannya melawan pasukan Alaudin. Meski akhirnya kalah, sosok Ratansen dan Padmini masih disakralkan oleh kaum Rajpur hingga saat ini.

Saksikan video 20detik untuk melihat tanggapan Deepika Padukone dalam film 'Padmavati' di sini:

[Gambas:Video 20detik]
(bag/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed