Sejumlah LSM Laporkan Kaitan Bom Poso & Kasus Korupsi ke DPR

Sejumlah LSM Laporkan Kaitan Bom Poso & Kasus Korupsi ke DPR

- detikNews
Jumat, 03 Jun 2005 00:09 WIB
Jakarta - Sejumlah LSM melaporkan dugaan kaitan bom di Tentena, Poso, Sulawesi Tengah, dengan kasus korupsi dana kemanusiaan di Poso, kepada DPR. Bom Poso diduga dilakukan oleh orang-orang yang terkait korupsi tersebut."Indikasinya, sebelum kasus korupsi diungkap hampir tidak pernah ada bom, penembakan misterius dan peristiwa teror lainnya. Namun setelah kasus itu diungkap secara masif, teror tidak pernah berhenti," kata Direktur Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) Iskandar Lamuga.Hal itu dikatakan Iskandar usai bertemu Ketua DPR Agung Laksono di Gedung DPR RI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (2/6/2005). Selain LPMS, turut juga Yayasan Panorama Alam Lestari (YPAL) dan Yayasan Tanah Merdeka (YTM).Tiga LSM ini merupakan organisasi non pemerintah (Ornop) yang aktif mengungkap kasus dugaan korupsi dana bantuan pengungsi di Poso. Saat melaporkan hal ini kepada Agung, mereka didampingi anggota FPDS DPR RI dari Poso Retna Situmorang."Yang ditahan dalam kasus bom poso saat ini merupakan tersangka yang sedang diproses di PN Poso terkait kasus korupsi dan kasus pembunuhan kepala desa. Mereka berkepentingan untuk menutupi kasus itu dengan melakukan teror terhadap masyarakat dan aktivis LSM," ungkap Iskandar.Aliansi ornop juga menyayangkan sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla yang terburu-buru menyatakan tidak ada hubungan antara korupsi dan kekerasan di Poso. Seharusnya Wapres memberikan kesempatan pihak kepolisian melakukan penyidikan.Mereka juga menuding Kepala Dinas Kesejahteraan Pemprov Sulteng yang saat ini menjadi pjs Bupati Poso Andi Asikin Suyuti terkait dalam kasus dugaan korupsi tersebut. Mereka mendesak Asikin diperiksa dan dicopot dari jabatannya."Ini menimbulkan pertanyaan. Korupsi telah berjalan komulatif sejak empat tahun lalu saat Jusuf Kalla menjabat Menko Kesra. Apakah pernyataan terburu-buru itu untuk menutupi pembiaran korupsi yang dilakukan Asikin selama empat tahun ini," tambah Peneliti YTM Josh Yunus Adi Candra yang ikut dalam jumpa pers. (fab/)


Berita Terkait