Syafi'i Ma'arif : Muhammadiyah Harus Selalu di Jalur Kultural

Syafi'i Ma'arif : Muhammadiyah Harus Selalu di Jalur Kultural

- detikNews
Kamis, 02 Jun 2005 23:47 WIB
Surabaya - Sebagai organisasi yang bergerak di jalur kultural, maka setiap calon ketua umum Muhammadiyah harus menjaga organisasi ini tidak bergerak ke wilayah politik. Apalagi memposisikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan untuk merenggut jabatan politik."Jangan jadikan Muhammadiyah tangga ke ranah politik. Jadi ketua umum Muhammadiyah membutuhkan nilai keikhlasan sangat tinggi," Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Ahmad Syafi'i Ma'arif kepada wartawan usai peluncuran bukunya dan soft launching Muktamar Muhammadiyah 45 di Kantor PW Muhammadiyah, Jl Kertomenanggal, Surabaya, Kamis (2/6/3005).5 tahun ke depan, menurut Syafi'i, merupakan masa transisi paling kritis bagi bangsa ini. Untuk itu, kepemimpinan Muhammadiyah harus makin meneguhkan komitmen dan khittah organisasi di jalur dakwah dan pemberdayaan umat. "Sekarang ini beban dan tanggung jawab moral Muhammadiyah sangat berat, mengingat banyaknya komponen bangsa ini menggantungkan harapannya kepada Muhammadiyah," tukas Buya, panggilan akrab Syafi'i.Buya mengungkapkan harapannya terkait dilangsungkannya Muktamar ke-45 Muhammadiyah pada 3 Juli sampai 8 Juli di Malang. Muktamar harus berjalan lancar sesuai dengan aturan main yang disepakati sehingga menghasilkan keputusan-keputusan yang mencerahkan masa depan rakyat. Buya sangat menyayangkan apabila Muktamar Muhammadiyah berakhir seperti organisasi atau partai lain yang pecah dan memiliki kepengurusan ganda."Muktamar mendatang harus berlangsung secara beradab. Bangsa ini hampir putus asa menatap masa depannya. Bangsa ini membutuhkan rujukan moral dalam menapaki masa depannya," tegasnya. Buya sendiri sangat optimis tidak terjadi perpecahan pada Muktamar Muhammadiyah. 95% iklim di Muhammadiyah sangat kondusif. Selain itu, Muhammadiyah dikenal memakai demokrasi berlapis, yakni muktamirin memilih 13 formatur dan salah satu dari formatur ini dipilih untuk menjadi ketua umum. Hal ini yang membuat Muhammadiyah tidak akan pecah. "Yang 5% itu riak-riak biasa, ya insya Allah tak sampai mengganggu jalannya muktamar," katanya yang baru saja berulang tahun ke-70 ini. (atq/)


Berita Terkait