Kunjungan Bule Aussie di Bali Merosot Tajam

Kunjungan Bule Aussie di Bali Merosot Tajam

- detikNews
Kamis, 02 Jun 2005 21:12 WIB
Denpasar - Ancaman dan seruan boikot ke Bali oleh para pendukung Corby bisa jadi bukan gertak sambal. Buktinya empat hari pascavonis Corby, kunjungan bule Aussie ke Bali merosot tajam.Namun Dinas Pariwisata Bali enggan menyebut penurunan tersebut terjadi akibat aksi boikot. Sebab secara umum, perbandingan kunjungan warga Australia pada bulan Mei 2004 dengan Mei 2005 justru naik 8,49 persen.Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya kepada detikcom saat ditemui di kantornya, Jalan S Parman, Denpasar, Bali, Kamis (2/6/2005).Schapelle Leigh Corby mendapat vonis 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 27 Mei 2005. Ratu mariyuana yang merupakan warga Australia ini kedapatan memiliki 4,2 kg mariyuana."Jumlah kunjungan sempat naik satu kali, kemudian turun. Tapi saya tidak yakin ini karena pengaruh isu yang berkembang di Australia untuk boikot pariwasata Bali," kata Nurjaya.Berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali, tercatat kunjungan bule Aussie pada 27 Mei 2005 sejumlah 1.188 orang. Lalu pada 28 Mei sejumlah 1.218 orang, 29 Mei sejumlah 873 orang, 30 Mei sejumlah 643 orang, 31 Mei sejumlah 398 orang."Polanya memang selalu begitu, naik turun. Jumlah kunjungan wisata terkecil terjadi pada 17 Mei 2005, hanya 237 orang," urai Nurjaya.Dia membandingkan rata-rata kunjungan pada Mei 2004 sebanyak 673 orang, sedangkan Mei 2005 sebanyak 730 orang. Jadi ada pertumbuhan sebesar 8,49 persen."Kita akan mengamati lagi bagaimana kunjungan wisatawan Australia ke Bali pada bulan Juni ini," kata Nurjaya.Dari hasil cek ke beberapa hotel yang merupakan pasar Aussie, lanjut dia, diperoleh informasi tidak ada rencana penundaan. "Memang ada satu dua orang, tapi tidak mempengaruhi booking yang sudah ada," imbuhnya.Dituturkan dia, ada hotel di Bali yang mengontak partnernya di Australia untuk mengonfirmasi aksi boikot. Namun industri pariwisata di Australia malah kaget dan menegaskan tidak ada isu boikot."Menurut mereka, kemungkinan isu boikot itu berkembang di masyarakat umum yang notabene tidak semuanya berasal dari komponen pariwisata," papar Nurjaya. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads