Corby Kaget dan Tidak Respect dengan Peneror KBRI Australia

Corby Kaget dan Tidak Respect dengan Peneror KBRI Australia

- detikNews
Kamis, 02 Jun 2005 19:52 WIB
Denpasar - Kekhawatiran melanda Corby. Teror di KBRI Canberra, Australia yang diduga terkait dengan dirinya itu dianggap tidak akan membuatnya bisa cepat pulang.Corby mengetahui berita teror melalui pengiriman paket berisi serbuk anthrax itu dari pengacaranya Lily Sri Rahayu Lubis, yang menghubunginya tadi pagi melalui telepon."Waktu saya kasih tahu, dia kaget dan tidak menyangka bakal sejauh itu. Dia tidak respect mendengar hal itu dan menjadi takut. Dengan tindakan seperti itu, dia khawatir kasusnya akan menjadi lebih sulit, karena melibatkan hubungan dua negara," kata Lily kepada detikcom melalui telepon di Denpasar, Bali, Kamis (2/6/2005).Corby mendapat vonis 20 tahun penjara karena kepemilikan mariyuana 4,2 kg. Dia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Denpasar, Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali."Dia sangat kecewa dan menyayangkan kejadian itu. Kalau memberikan support, tidak begitu caranya. Tindakan seperti itu secepatnya harus dihentikan karena tidak akan membuatnya bisa cepat pulang," tukas Lily.Pemberitaan Corby memang kerap mendapat sorotan. Apalagi ketika perempuan muda Aussie bernama lengkap Schapelle Leigh Corby ini mendapat vonis oleh Pengadilan Negeri Denpasar, Bali pada 27 Mei 2005.Warga Australia pendukung Corby marah dan bereaksi keras. Terlebih lagi ketika melihat wajah ratu mariyuana yang sedang menangis pilu itu tampil di berbagai media Australia. Mereka mengancam akan memboikot kunjungan wisata ke Bali.Pada 1 Juni 2005, KBRI Canberra, Australia mendapat paket berisi bubuk anthrax. Setelah membaca surat sang peneror, PM Australia John Howard meyakini kiriman paket tersebut terkait vonis Corby. (sss/)



Berita Terkait