Mahasiswa Koma Dihajar Tramtib, UKI Tuntut Sutiyoso

Mahasiswa Koma Dihajar Tramtib, UKI Tuntut Sutiyoso

- detikNews
Kamis, 02 Jun 2005 15:24 WIB
Jakarta - Seorang mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI), Viktor Djami, hingga kini terbaring koma akibat dihajar aparat Tramtib Pemerintah Kota Jakarta Timur (Jaktim) pada 17 Mei lalu. Mahasiswa dan Ikatan Alumni UKI pun menuntut pertanggungjawaban Gubernur DKI Sutiyoso dan Walikota Jaktim Koesnan A. Halim.Gubernur DKI dan Walikota Jaktim dituntut membiayai perawatan Viktor Djami di Rumah Sakit UKI. Keduanya juga diminta untuk menanggung biaya Viktor. Sebab jika ia bisa sembuh dipastikan akan mengalami cacat tetap dan tidak bisa mencari nafkah.Tuntutan ini disampaikan Sekretaris Umum Ikatan Alumni UKI Johnson Panjaitan, dan wakil mahasiswa UKI Doni dalam jumpa pers di Rumah Sakit UKI, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (2/6/2005).Menurut Doni, keluarga korban telah mengeluarkan biaya perawatan rumah sakit sebesar Rp 30 juta. Sedangkan dari Rumah Sakit UKI telah membantu biaya perawatan sebesar Rp 50 juta. "Viktor dalam keadaan koma. Berdasarkan analisa dokter, meskipun ada mukjizat untuk hidup, Viktor akan mengalami cacat permanen," ujarnya.Tentang tindakan hukum yang dilakukan, Johnson menyatakan telah mengadukan kasus ini ke Polda Metro Jaya pada 31 Mei lalu. Pengacara juga telah menghubungi Walikota Jakarta Timur untuk meminta pertanggungjawaban, tapi yang bersangkutan tidak memberi jawaban.Kepala Viktor RemukViktor dirawat di ruang ICU RS UKI. Dari luar ruang ICU terlihat Viktor digips lehernya, tubuhnya disambungkan dengan selang-selang infus, dan kepalanya diperban. Dalam perban itu ada tulisan, "Jangan Disentuh, Tidak Ada Tulang."Apa maksud tulisan itu? "Sebab batok kepalanya diangkat karena remuk," jelas Doni.Dijelaskan Doni, kejadian yang menimpa Viktor ini berawal ketika 400-an aparat Tramtib dari Pemkot Jaktim membongkar paksa warung-warung milik pedagang kaki lima di sekitar kampus UKI. Mahasiswa UKI memprotes tindakan itu. Mahasiswa, yang berbaur bersama pedagang, kemudian mencoba menghentikan aksi pembongkaran ini. Akibatnya bentrokan antara massa pedagang yang berbaur dengan mahasiswa melawan aparat Tramtib tidak terhindarkan. Mahasiswa dan pedagang kemudian mundur ke dalam kampus. Aparat Tramtib, yang bersenjatakan pentungan, memburu mahasiswa dan pedagang ke dalam dalam kampus. Pada saat itu Viktor, yang menjadi anggota korps sukarelawan, melihat seorang pedagang yang tergeletak terkena batu dan berusaha menyelamatkannya. Namun sebelum Viktor menghampiri korban, ia tertangkap dan langsung dihajar dengan pentungan yang mengenai kepala, badan dan kaki. Tempurung kepala remuk karena dipukul dengan batu besar. (gtp/)


Berita Terkait