Penderita Busung Lapar di NTT Melonjak Jadi 119
Kamis, 02 Jun 2005 14:50 WIB
Kupang - Jumlah penderita busung lapar di Nusa Tenggara Timur (NTT) melonjak tajam dalam dua hari terakhir menjadi 119 kasus. Kasus ini tersebar di 11 kabupaten. Sebelumnya, kasus memprihatinkan ini tercatat 54 kasus.Penderita penderita kurang gizi dan gizi buruk yang sebelumnya berjumlah 52.693, juga meningkat tajam menjadi 62.444 kasus. Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stef Bria Seran, mengatakan, pihaknya segera menerjunkan tim investigasi guna mencari tahu penyebab terjadinya krisis gizi yang melanda NTT.Sejauh ini, katanya, pemerintah hanya menduga bahwa krisis gizi disebabkan oleh pola konsumsi yang tidak teratur. Tetapi kuat dugaan, masalah krisis pangan akibat gagal panen menjadi salah satu penyebabnya disamping karena masalah ekonomi. Bria Seran menambahkan, dari 6.502 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang ada di NTT, hanya 30 persen yang masih berjalan."Kalau Posyandu berjalan dengan baik maka bisa diketahui kondisi kesehatan balita setiap bulan. Tetapi karena 70 persen Posyandu tidak berfungsi. Maka masyarakat tidak bisa mengontrol kesehatan bayi setiap bulan," katanya saat dihubungi di Kupang, Kamis (2/6/2005).Gubernur NTT, Piet A Tallo, mengeluarkan surat edaran kepada para bupati untuk segera melakukan intervensi terhadap para korban krisis pangan. Intervensi yang dilakukan dalam bentuk pemberian makanan tambahan anak sekolah (PMTAS) selama 90 hari, pemberian makanan padat gizi dan susu serta mengaktifkan kembali Posyandu.Sekretaris Satkorlak Penanggulangan Bencana NTT, Frans Salim, yang dihubungi terpisah mengatakan, untuk membantu para korban, pemerintah akan menggunakan dana darurat sebesar Rp 11 miliar yang dianggarkan beberapa waktu lalu. "Para penderita yang dirawat tidak akan dikenai biaya. Pemerintah akan mengambil alih semua biaya perawatan," kata Frans.Hasil pantauan di RSU WZ Yohanis Kupang hari ini, tiga dari enam penderita gizi buruk telah dipulangkan dan hanya menjalani rawat jalan. Sedangkan tiga penderita lainnya, yaitu Deby Henukh (13), Serly Raha (10 bulan) dan Melky Seran (1,6) masih dalam kondisi kritis. Ketiga penderita ini sudah menjalani perawatan lebih dari dua pekan.Wakil Direktur RSU WZ Yohanis Kupang, Boby Koemesakh, mengatakan, para penderita berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu memberikan makanan bergizi bagi anak-anak mereka. Dari 119 penderita busung lapar, 24 penderita sementara menjalani terapy kesehatan, sembilan dirawat di rumah sakit, 24 dirawat di Puskesmas dan sisanya menjalani rawat jalan.
(nrl/)











































