Surat Para WNI di Australia
Corby Tetap Heboh, Tapi Aman
Kamis, 02 Jun 2005 13:35 WIB
Jakarta - Redaksi detikcom menerima banyak e-mail dari para WNI yang saat ini menetap di Australia, Kamis (2/6/2005). Mereka mengabarkan, keadaan mereka baik-baik saja pasca teror bubuk putih.Masalah Corby memang ramai diperbicangkan. Hal itu akibat pemberitaan pers setempat yang dinilai berlebihan. Berikut surat elektronik para WNI tersebut:Wawan, SydneySaya sebagai WNI yang bekerja sebagai profesional di Sydney Australia hanya ingin meluruskan beberapa hal yang mungkin telah diekspose secara kurang proporsional oleh kalangan pers.Di sini saya telah menjalani hidup sebagai profesional di bidang saya sebagai ahli multimedia. Saya bersaing secara sehat dengan masyarakat lokal di Sydney tanpa diskriminasi, bahkan setelah pasca kasus Corby sekalipun.Kita harus melihat ini secara global di mana masyarakat Australia ini merupakan multicultural race yang telah generated dan sebagian besar mereka memiliki dasar pendidikan yang di atas rata-rata. Secara umum hanya segelintir saja yang mungkin tidak mengambil langkah ini disebabkan oleh alasan sendiri.Di dalam faktanya, hanya segelintir orang pula di sini yang peduli terhadap kasus Corby. Jadi menurut saya para akademisi dan profesional yang berpendidikan baik dan sibuk dengan urusan mereka, tidak akan memberi perhatian pada kasus itu.Saya cuma berharap agar pers tidak terlalu membuat dan mengekspose berita secara tidak benar yang dapat mengakibatkan opini di dalam masyarakat yang pada akhirnya akan merugikan dan mengganggu persahabatan kedua negara.Pria Utama, MelbourneSaya student di Melbourne, Victoria, dan ingin menyampaikan hingga saat ini tidak ada hal-hal yang mencolok sehubungan dengan teror ke Kedubes Indonesia di Canberra.Perlakuan orang Australia sejauh yang saya alami biasa-biasa saja, tidak ada yang berubah. Dan teman-teman lain pun sepengetahuan saya tidak ada masalah apa-apa.Hanya mungkin masalah Corby ini dieksploitasi habis-habisan oleh pers Australia. Mereka hanya memberitakan bahwa Corby tidak bersalah tapi jarang memperdebatkan substansi dari kasusnya itu sendiri. Sangat subjektif.Ricky Sondakh, SydneyNama saya Ricky, WNI yang sementara studi dan bekerja di Sydney. Akhir-akhir ini pemberitaan tentang Corby memang sangat menghangat di mana-mana, entah itu di dalam bus, KA atau pun di bar atau pub. Juga di media elekronik dan cetak. Bahkan waktu final sidang keputusan Corby beberapa hari lalu, sempat ditayangkan secara live di salah satu channel TV selama kurang lebih 6 jam.Beberapa jam setelah keputusan final diputuskan, di tempat saya bekerja (restoran) pembicaraan tentang Corby kian menghangat saja, baik dari para staf restoran, konsumen, sampai bos saya sendiri langsung menanyakan kepada saya apakah pengadilan di Indonesia benar-benar fair.Sebab dia sangat terkejut dan terpukul dengan keputusan tersebut. Saya pun dengan santainya menjawab, "I'm sorry Nick (bos saya). I don't like politics and no comment!"Adapun komentar-komentar dari sesama konsumen yang berada pada waktu itu, mereka sebagian besar sangat kecewa berat dan tidak bisa menerima keputusan itu. Bahkan ada yang sempat berkomentar/menyinggung tentang bantuan tsunami Australia kepada Indonesia.Kemarin giliran KBRI di Canberra mendapat teror berupa serbuk penyebab anthrax. Saat ini situasi di Sydney menurut pengamatan saya aman-aman saja khususnya untuk warga Indonesia, sekalipun ada desas-desus bahwa akan ada demonstrasi anti Indonesia beberapa pekan ke depan.Tapi jujur dalam hati saya, agar kiranya persoalan ini dapat segera diselesaikan kedua belah pihak Australia - Indonesia secara arif supaya tidak makin meluas. Agar kami warga Indonesia yang berada Australia tetap merasa aman dan tidak menjadi sasaran dari orang-orang yang anti Indonesia.Syahrani Azmi Rahim, PerthTeror yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan serbuk anhtrax itu sungguh keterlaluan dan lebih kejam daripada drugs.Antusias masyarakat Australia terhadap Corby sungguh luar biasa. Pemberitaan yang terjadi di sini sungguh terlalu berlebihan mengenai Corby.Bahkan, ketika kuliah marketing kemarin kebetulan ada presentasi dari STA Travel. Salah satu mahasiswa Australia bertanya mengenai kebijakan STA Travel (jasa travel) dengan Bali. Apakah dia ban? Ataukah ada kebijakan lain?Sungguh pertanyaan yang aneh menurut saya dan nggak nyambung. Tapi dosen yang juga seorang Australia juga mengamini "that's a good question". Bah! Ketika Jumat pun menurut laporan seorang kawan di Melbourne, Monash University, menyiarkan secara live persidangan Corby dan Anda bisa membayangkan berapa orang yang menonton itu sekaligus menghujat ketika hakim menyatakan vonis 20 tahun.Setuju dengan anggota DPR, pemerintah Indonesia seharusnya menyatakan travel warning ke Australia. Tak ada kata takut! Lakukan saja. Sekali-kali Indonesia menciptakan rekor pertama kali untuk memberlakukan travel warning ke Australia.Yang jelas, masyarakat sini sekarang sedang jengkel-jengkelnya mengenai Corby. Menurut saya ini dikarenakan pemberitaan yang berlebihan ditambah gambar Corby yang dipampang selalu sedang menangis.Kita pun tahu bahwa picture speaks a thousand words. Jadi efeknya membuat warga Australia kasihan terhadapnya.
(nrl/)











































