"Indonesia justru kita mengakui perbedaan karena itu ada Bhinneka Tunggal Ika. Tapi perbedaan itulah menjadi kekuatan kita," kata Wapres JK saat memberi pembekalan ke PPSA 21 dan PPRA 56 Lemhanas di Istana Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/11/2017).
"Katakanlah sifat kita berbeda-beda, orang Jawa yang tenang dibanding orang Batak yang meledak meledak, atau juga orang Bugis yang juga meledak-ledak, atau berbeda-beda. Bisa saja kita pecah karena bersaing kan. Sekarang justru karena perbedaan-perbedaan itulah kita bersatu, yang saling melengkapi satu sama lain. Itulah sifat bangsa ini," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita pikir-pikir terbalik, kita tidak begitu, kenapa ada ketidakbangsaan, Kenapa ada perpecahan, jadi baru bisa mengetahui Apa sebabnya terjadi perpecahan? Apakah karena kita tidak hafal Pancasila? Saya kira tidak," tutur JK.
"Semua juga pemerintahan itu dari Bung Karno Apalagi sebagai Bapak Pancasila, zaman Pak Harto semuanya serba demokrasi Pancasila, Pancasila malah ada sepakbola Pancasila," imbuhnya.
Baca juga: JK: Bangsa Melayu Punya Andil Besar bagi Bangsa Indonesia
Sehari sebelumnya, di Kabupaten Lingga, Provinsi Riau, JK menyaksikan penandatangan sumpah setia suku Bugis dan Suku Melayu untuk persatuan bangsa Indonesia. JK mengatakan belajar banyak hal dari sumpah tersebut dan kembali mengucapkannya di hadapan masyarakat Melayu yang hadir.
"Jikalau tuan kepada Bugis, tuanlah kepada Melayu. Jikalau tuan kepada Melayu, tuanlah kepada Bugis. Dan jika musuh kepada Bugis, musuh lah kepada Melayu. Apabila musuh kepada Melayu, musuhlah kepada Bugis," ucap JK saat menghadiri Festival Tamadun Melayu, Lingga, Riau, Minggu (19/11).
(rna/rvk)











































