DetikNews
Minggu 19 November 2017, 17:45 WIB

JK Terima Gelar Sri Perdana Mahkota Negara dari Adat Melayu

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
JK Terima Gelar Sri Perdana Mahkota Negara dari Adat Melayu Wapres JK mendapat gelar Sri Perdana Mahkota Negara dari Adat Melayu (Foto: Sys Milla / Media Wapres)
Kabupaten Lingga - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menerima gelar adat Sri Perdana Mahkota Negara dari Lembaga Adat Melayu. JK menyebut Indonesia menjadi besar karena beragam adat-istiadat.

JK tiba di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Minggu (19/11/2017), dengan menggunakan helikopter dari Kota Batam. JK ditemani istrinya Mufidah Kalla mengenakan pakaian baju kurung adat Melayu, dan Mufidah mengenakan tudung manto.

Pada prosesi tersebut, dilakukan pemasangan tanda kebesaran adat berupa Tanjak, Selempang, Keris dan Warkah oleh Ketua Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau Datok Sri Setia Amanah, Abdul Razak.

Wapres JK mendapat menerima gelar adat Sri Perdana Mahkota Negara dari Lembaga Adat MelayuWapres JK menerima gelar adat Sri Perdana Mahkota Negara dari Lembaga Adat Melayu (Foto: Sys Milla / Media Wapres)
Selanjutnya, prosesi pemberian gelar ini masuk ke tahap 'Bertepuk Tepung Tawar'. JK dan istrinya yang diberi gelar Sri Puan Mufidah Jusuf Kalla 'diperciki' beras dan air oleh pemuka adat setempat dan duduk di atas pelaminan.

"Pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas penghormatan tinggi kepada saya dan istri saya. Setelah dipertimbangkan dengan baik. Amanah ini akan saya emban sebaik-baiknya," kata JK dalam sambutannya.

JK mengatakan perbedaan-perbedaan yang ada di Nusantara telah berhasil menyatukan Indonesia. Menurutnya, Indonesia besar kerena terdiri dari beragam adat istiadat.

"Tapi Melayu selalu dan menjadi bagian sangat penting walaupun Melayu bukanlah penduduk terbesar negeri ini. Tapi kita semua sebangsa ini sepakat memakai bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia kita," jelasnya.

Sebagai sosok yang berasal dari Bugis, JK bercerita bahwa suku Bugis memiliki hubungan yang baik dengan warga Melayu. Keduanya sejak berabad-abad lalu selalu saling mendukung satu sama lain.

"Di sini begitu banyak suku Bugis, tetapi di Makassar juga banyak penduduk dari Melayu sehingga kampung yang pertama kali apabila masuk di Makassar adalah kampung Melayu. Tentu ini menjadi hubungan sedarah yang tidak bisa kita pisahkan," tegasnya.
(tfq/ams)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed