DetikNews
Minggu 19 November 2017, 17:15 WIB

Seribuan Warga yang Sempat Disandera KKB Papua Pilih Bertahan di Kampung

Aditya Mardiastuti - detikNews
Seribuan Warga yang Sempat Disandera KKB Papua Pilih Bertahan di Kampung Foto: Sebagian warga asli Papua yang semula tidak ingin dievakuasi akhirnya meminta dievakuasi ke Timika agar bisa merayakan Natal dengan damai. (Istimewa)
Jakarta - 344 warga yang ditahan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sudah berhasil dievakuasi dari Desa Kimbely dan Banti, Mimika, Papua. Meski begitu, masih ada 1000-an warga yang bertahan di desa tersebut.

"1.000 warga masih di kampungnya, Kimbely dan Banti karena itu kampungnya," kata Kapendam XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi saat berbincang via telepon, Minggu (19/11/2017).


Aidi mengatakan 344 warga yang tersandera itu dievakuasi pada Jumat (17/11) kemarin. Ke-344 warga itu selesai dievakuasi dalam waktu 5 jam ke Tembagapura, Papua. Situasi saat ini pun sudah berangsur kondusif.

"Sementara kita bilang kondusif, karena kita belum tahu prediksi ancaman-ancaman karena tiba-tiba pengamanan selalu kita lakukan. Tadinya 1.300 orang yang tersandera dan terisolasi sudah bebas," ujar Aidi.

Aidi mengatakan warga yang masih tinggal di kampung itu meninggalkan masalah sosial. Pasalnya 344 warga yang dievakuasi itu merupakan warga pendatang yang menggerakkan roda perekonomian Desa Kimbely dan Desa Banti.

"Ini persoalannya 1.000 yang memilih tinggal di kampung meninggalkan masalah sosial, karena selama ini yang menghidupkan roda ekonomi warga pendatang, buka warung, berkebun, saat ini hampir tidak ada yang berkebun. Misal mereka mendulang emas tradisional, dapat uang tapi gimana mereka beli berasnya," ujar Aidi.


Saat ini, kata Aidi, para warga yang masih bertahan itu sudah bermusyawarah apakah akan tetap bertahan atau ikut mengungsi. Dia berharap pemerintah daerah bisa segera turun tangan memberi bantuan.

"Tadi kita dapatkan informasi mereka musyawarah apakah keputusan mereka ikut mengungsi juga atau bertahan di situ. Persoalan lain kalau mengungsi dia harus dibangunkan permukiman, rumah-rumah sementara. Sekarang saja hampir satu bulan anak-anak mereka tidak sekolah, pelayanan kesehatan di sana, PT Freeport sudah bangunkan RS modern tapi tidak ada petugasnya," urai Aidi.

"Harapannya pemda segera turun tangan membantu kehidupan sosal di sana, sekolah, guru kami siap mengawal. Kalau sekarang guru-guru kan belum berani masuk, pasar belum buka, dan pendatang sudah tidak mungkin kesana," kata Aidi.
(ams/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed