RI Didesak Keluarkan Travel Warning ke Australia

RI Didesak Keluarkan Travel Warning ke Australia

- detikNews
Kamis, 02 Jun 2005 10:34 WIB
Jakarta - Dikirimkannya serbuk yang diduga bakteri anthrax ke Kedubes RI di Canberra sungguh membahayakan. Pemerintah Indonesia sebaiknya bersikap keras terhadap Australia, dengan mengeluarkan travel warning bagi warga Indonesia untuk bepergian ke Negeri Kangguru itu. "Pemerintah harus mengeluarkan travel warning ke Australia. Bahkan kalau perlu, semua keluarga diplomat yang ada di Australia dipulangkan ke Indonesia," kata anggota Komisi I DPR Djoko Susilo saat berbincang-bincang dengan detikcom, Kamis (2/6/2005). Pemerintah tidak perlu berlembek-lembek lagi dengan Australia atas kejadian ini. "Sisakan di Australia diplomat yang esensial saja. Yang lain tarik," kata anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini. Hal ini perlu dilakukan, karena Djoko meragukan pengamanan Kedubes RI di Canberra. "Ini kan tindakan yang sangat bahaya. Pengamanan harus betul-betul memadai. Saat ini, Deplu masih terlalu lunak bersikap," ungkapnya.Dengan pengiriman bubuk anthrax ke Kedubes RI, Djoko juga mengkhawatirkan keselamatan warga Indonesia di Australia. Dia mengingatkan tentang tindakan sweeping yang dilakukan Australia terhadap warga Indonesia muslim pasca bom Bali dan bom Kedubes Australia lalu. "Kalau pemerintah tidak tegas, hal ini bisa terulang lagi. Sebaiknya, pemerintah tidak perlu terlalu berkompromi lagi," tegas Djoko. Djoko juga mengkritik kemungkinan akan diserahkannya terpidana 20 tahun dalam kasus mariyuana 4,2 kg, Schapelle Corby, ke Australia dengan skenario penukaran tahanan. Menurut dia, hukuman terhadap Corby itu terlalu rendah. Seharusnya Corby dihukum mati seperti terdakwa penyelundup narkoba lainnya. "Kalau sampai dengan kejadian ini Corby diserahkan ke Australia, maka itu berarti menolerir penyelundupan narkoba ke Indonesia. Ini bahaya," jelasnya. Mengenai travel warning, Djoko menilai, akan sangat berdampak bagi Australia. Warga Indonesia di Australia cukup banyak. Mahasiswa Indonesia yang belajar di sana saja mencapai 40 ribuan orang. "Bisnisman dan juga wisatawan juga banyak yang sering pergi ke Australia," ungkapnya. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads