DetikNews
Sabtu 18 November 2017, 13:11 WIB

Panglima Gatot Provokasi Mahasiswa Lewat Orasi Ilmiah

Tri Ispranoto - detikNews
Panglima Gatot Provokasi Mahasiswa Lewat Orasi Ilmiah Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Bandung - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Senat Unisba Dalam Rangka Milad ke-59. Gatot mengingatkan soal ketahanan Indonesia dalam menghadapi persaingan dunia.

Gatot mengatakan, dalam menghadapi persaingan, dunia dipandang melalui sejumlah teori. Teori pertama adalah Malthys 1798, yang memperlihatkan populasi dunia terus meningkat.

Dari teori tersebut, populasi dunia yang hanya 1 miliar pada tahun 1800 terus meningkat hingga 2 miliar pada 1930. "Aneh bin ajaib hanya butuh 30 tahun bertambah jadi 3 miliar (penduduk). Terus menurun hanya butuh 15 tahun naik ke 4 miliar. Dan kini 7 miliar," kata Gatot di kampus Unisba, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (18/11/2017).
Panglima Gatot Provokasi Mahasiswa Lewat Orasi IlmiahFoto: Tri Ispranoto/detikcom

Padahal, kata Gatot, idealnya bumi hanya bisa ditempati 3-4 miliar manusia. Jadi kondisi ini memicu kondisi bumi yang abnormal dan berimbas pada 41 ribu anak meninggal per hari atau 15 juta per tahun. Kondisi ini pulalah yang memicu kemiskinan, kelaparan, dan kesehatan yang buruk.

Teori kedua adalah Peak Oil, yang menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat dunia. Gaya hidup tersebut memunculkan generasi milenial yang tergantung pada internet serta perilaku simpel dan fleksibel juga serba cepat.

"Inilah yang menyebabkan krisis ekonomi, depresi ekonomi, dan meningkatnya kejahatan. Hingga timbul kompetisi global. Dan 70 persen konflik dunia disebabkan oleh sumber energi minyak," katanya.

Di tengah isu konflik tersebut, banyak orang yang mulai melirik energi alternatif yang memanfaatkan sumber alam nabati. Indonesia, yang menjadi salah satu negara yang kaya akan alam, kelak akan diperebutkan oleh dunia.

Dari dua teori tersebut, Gatot menyimpulkan sebuah teori baru yang diberi nama 'Teori Pergeseran Latar Belakang dan Lokasi Konflik Dunia'. Pada teori itu, disebutkan nantinya jika sumber energi sudah habis dan terjadi kelangkaan pangan juga air, lokasi konflik akan berpindah dari Timur Tengah ke negara ekuator, salah satunya Indonesia.

Jenderal bintang empat itu menegaskan, dari tiga teori tersebut, Indonesia, yang merupakan negara kepulauan terbesar dengan garis pantau nomor dua di dunia juga luas laut yang mencapai 5,8 juta km2 ditambah kekayaan suku, bangsa, dan bahasa, dengan kekayaan alam yang melimpah, akan menjadi sasaran utama dunia.

"Yang perlu kita waspadai adalah teori hegemoni dunia. Tradisi lokal mulai tergerus dengan kultur global. Lalu terjadi migrasi besar-besaran. Dan Indonesia akan diperebutkan sebagai tempat pengharapan dunia dengan cara proxy war yang sudah dimulai sejak lama. Inilah yang benar-benar harus kita waspadai," ujarnya.

Namun Gatot meyakini upaya-upaya untuk menguasai Indonesia tidak akan mudah. "Kita sudah teruji dengan perpecahan. Karena kita tetap utuh dengan Pancasila," tegas Gatot.

Sementara itu, saat ditemui seusai acara, Gatot sengaja memaparkan orasi tersebut untuk mendidik para mahasiswa menjadi pejuang, ilmuwan, dan kader perubahan bagi Indonesia ke depannya.

"Saya provokasi mahasiswa agar mempunyai jiwa-jiwa, semangat lagi menimba ilmu dan fokus pada satu ilmu saja. Karena mereka dipersiapkan untuk mengisi demokrasi Indonesia ini," tandas Gatot.
(jor/jor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed