Beda Keterangan Hilman dan Analisis Ahli soal Kecelakaan Novanto

ADVERTISEMENT

Beda Keterangan Hilman dan Analisis Ahli soal Kecelakaan Novanto

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Jumat, 17 Nov 2017 17:03 WIB
Hilman Mattauch. Foto: dok. YouTube DPR
Jakarta - Sopir mobil Fortuner yang membawa Setya Novanto kecelakaan, Hilman Mattauch, menyebut kecepatan saat menabrak tiang lampu berkisar di 70 km/jam. Namun analisis ahli berbeda jauh dengan keterangan kontributor Metro TV itu.

"Kalau menurut keterangan Hilman (kecepatan mobil) sekitar 70-an km/jam," kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra kepada detikcom, Jumat (17/11/2017).


Hilman dimintai keterangan oleh polisi di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Pusat. Polisi sudah melakukan olah TKP, tapi belum merilis hasilnya ke publik.

Keterangan soal kecepatan mobil yang dilontarkan Hilman ini berbeda jauh dengan analisis dari instruktur dan founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu. Menurut Jusri, kecelakaan itu ada kemungkinan terjadi di bawah kecepatan 20 km/jam.

"Dengan kerusakan yang terlihat secara visual, di mana bemper tidak lepas, terus headlamp nggak pecah, kemungkinan itu kecelakaan dalam kecepatan di bawah 20 km/jam. Apalagi airbag tidak mengembang (biasanya airbag mobil akan mengembang ketika terjadi benturan frontal di atas kecepatan tertentu, red), patut diduga di bawah 20 km/jam. Kecelakaan seperti itu kerusakannya seperti itu memungkinkan terjadi," kata Jusri kepada detikOto melalui sambungan telepon.


Beda Keterangan Hilman dan Analisis Ahli Soal Kecelakaan NovantoFoto: Ilustrasi

Gaya benturan tabrakan ketika kecepatan 20 km/jam, kata Jusri, juga besar. Menurutnya, gaya tabrakan di kecepatan 20 km/jam sama seperti gaya objek jatuh dari ketinggian 3-4 meter.

"Tubuh itu akan menerima benturan setara terjun bebas dari ketinggian 3-4 meter itu kalau kecepatan 20 km/jam. Jadi saya membayangkan, kalau badan kita jatuh dari ketinggian itu ya bonyok juga. Bisa saja terjadi. Apalagi kalau orang tersebut tidak siap (ketika akan terjadi benturan)," jelas Jusri.


Hal senada disampaikan Bintarto Agung dari Indonesia Defensive Driving Center. Menurut dia, kecelakaan merupakan sebuah frontal crash yang tidak kencang.

"Kalau saya lihat dan analisa foto-fotonya dari mobil Fortuner yang ada di detikcom, menurut saya itu adalah frontal crash (tabrak depan), dan tidak lebih dari 35-45 km/jam, saat impact terjadi. Dapat dikategorikan sebagai kecelakaan tidak berat (tiang masih berdiri tegak, kaca depan tidak rusak, apron dan cross member mobil juga kelihatannya tidak rusak parah)," ujarnya.

"Kalau kaca samping pecah, ini yang agak aneh menurut saya, karena analisa saya adalah frontal crash, maka tidak ada gaya sentrifugal yang cukup besar, yang dapat menyebabkan bagian kepala penumpang terbawa ke samping dan membentur kaca samping," tambahnya. (tor/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT