DetikNews
Rabu 15 November 2017, 08:48 WIB

Membaca Kembali Jejak Pertemanan Prabowo – Amien Rais

Aryo Bhawono - detikNews
Membaca Kembali Jejak Pertemanan Prabowo – Amien Rais Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit menilai pertemuan Amien Rais dan Prabowo Subianto di Yogyakarta beberapa hari lalu sebagai langkah politik untuk persiapan Pemilu Presiden 2019. Keduanya ditengarai tengah mengembangkan strategi lain setelah berhasil membawa kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Salah satu indikasinya, kata Arbi, pertemuan juga melibatkan mereka yang menyebut dirinya alumni aksi demonstrasi 212 (2 Desember 2016).

"Tapi kalau figurnya masih Prabowo ya tak akan efektif karena namanya sudah tak semegah pada 2014. Jadi harus ada nama baru," kata Arbi saat dihubungi detik.com, Selasa (14/11/2017) malam.

Kerja sama politik antara Amien Rais dan Prabowo, dia melanjutkan, sudah pernah terwujud pada pilpres 2014. Kala itu, PAN mengusung ketua umummnya Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo. "Kalau hubungan pribadi keduanya sudah lama, sejak Orde Baru mau jatuh sudah dekat mereka," jelas Arbi.

Kala itu, Fadli yang memimpin Institute for Policy Studies menggelar syukuran atas terpilihnya Prabowo sebagai Panglima Kostrad (Pangkostrad) dengan pangkat Letnan Jenderal. Amien Rais merupakan salah satu tokoh yang datang dan memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Prabowo sendiri mengakui kedekatannya dengan Amien dan pertemanannya yang sudah lama terjalin. Bagi dia, sosok Amien Rais bukan cuma tokoh reformasi tapi juga mentor yang menjadi panutannya dalam berkiprah di dunia politik. Tak heran bila diantara keduanya punya pemikiran yang sama tentang demokrasi, keadilan, dan kesejahteraan.

Prabowo juga pernah menyebut Amien sebagai Ayatullah Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam jumpa pers menyikapi hasil hitung cepat pemilihan gubernur DKI Jakarta, di kediamannya Jalan Kertanagara, 19 April 2017.

Hubungan diantara keduanya telah terjalin sejak pengujung masa Orde Baru. Pertemuan lebih sering berlangsung tertutup karena Prabowo kala itu masih perwira aktif, tepatnya sebagai Pangkostrad.

"Saya sering berdiskusi bersama Amien pada malam hari di tempat-tempat rahasia," kata Prabowo di Kantor DPP PAN, Pasar Minggu, 14 Mei 2014. Dia bertandang untuk menanggapi dukungan PAN terhadap dirinya sebagai calon presiden, dan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa sebagai cawapresnya.

Ketika Jakarta dilanda kerusuhan massal, pada 18 Mei 1998, Amien Rais bertemu dengan Prabowo. Mereka membahas perkembangan situasi saat itu. Amien antara lain meminta agar Prabowo ikut mendesak Soeharto mundur dari jabatannya guna menghindari pertumpahan darah yang lebih luas. "Saya rasa keadaan sudah tidak tertahan lagi. Saya rasa kamu harus meyakinkan Soeharto untuk mundur," kata Amien.

Sebaliknya Pabowo pernah mengingatkan Amien agar membatalkan niatnya untuk memimpin aksi massa di lapangan Monas pada 20 Mei. Jika tetap memaksa, dikhawatirkan akan jatuh korban mengingat aparat telah siaga penuh untuk menghalau hal-hal yang sangat mungkin terjadi di luar kendali. Kali itu, Amien pun manut.




(ayo/jat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed