WHO: 5 Juta Orang Tewas/Tahun Gara-gara Rokok

WHO: 5 Juta Orang Tewas/Tahun Gara-gara Rokok

- detikNews
Rabu, 01 Jun 2005 14:12 WIB
Jakarta - Data ini tidak terlalu mengejutkan: 70% penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Adanya riset WHO pada 2004 bahwa 5 juta penduduk dunia mati karena rokok tiap tahun, tidak menyurutkan nyali para perokok Indonesia.Berdasar data WHO ini, dengan demikian penduduk bumi yang menghembuskan nafas terakhir akibat rokok mencapai 13,69 orang/hari. Angka yang cukup tinggi!"Bila dilihat dari sisi rumah tangga, 57% rumah tangga memiliki anggota keluarga yang perokok," kata Menkes Siti Fadillah Supari ketika memberikan sambutan dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau se-Dunia di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Rabu (1/6/2005).Hari Tanpa Tembakau se-Dunia sebenarnya jatuh pada 31 Mei kemarin. Tapi mungkin karena kemarin sibuk imunisasi polio, peringatan tersebut diundur hari ini.Dalam acara itu, ditampilkan happening art dari mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), drama, pembacaan puisi, dan parodi jingle-jingle produk rokok.Djarum coklat misalnya, dipelesetkan menjadi 'racun coklat'. Buktikan merahmu milik Gudang Garam diganti dengan 'buktikan marahmu'. Seorang mahasiswa juga tampil mengenakan kostum berbentuk rokok. Sosok itu lalu dihancurkan oleh rekannya yang lain.Siti Fadillah Supari melanjutkan, dari 57% angka di atas, 91,8% di antaranya merokok di dalam rumah ketika sedang bersama anggota keluarga lainnya.Rokok tampaknya memang sudah menjadi 'budaya' Indonesia. Bayangkan, menurut survei Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) sebagaimana disitir Menkes, rokok sudah mulai dikenal oleh anak umur 8 tahun atau usia sekolah! Sebagai informasi, rokok memang memberikan kontribusi signifikan, berupa cukai. Bayangkan, tahun 2004 cukai rokok sebesar Rp 27 triliun. Belum lagi kontribusi sektor pertanian dan tenaga kerja. Namun, itu semua sebenarnya hanya ilusi belaka. Sebagai contoh, jika Pemerintah mendapatkan Rp 27 triliun, berapa sebenarnya biaya kesehatan yang ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat? Menurut data di berbagai negara, dan juga Indonesia, biaya kesehatan yang ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat sebesar 3 kali lipat dari cukai yang didapatkan. Jadi, kalau cukainya Rp 27 triliun maka biaya kesehatannya sebesar Rp. 81 triliun, alias defisit!Menurut estimasi WHO, pada 2020 dampak tembakau di negara maju mulai menurun. Pada 1996 mencapai 32%, namun pada 2001 hanya 28%. Namun, di negara-negara berkembang tren konsumsi tembakau malah mengalami kenaikan, yaitu 68% pada 1996, menjadi 72% pada 2001. Wajar, jika hampir 50% (sekitar 4,2 juta jiwa) kematian akibat tembakau pada 2020 terjadi di wilayah Asia, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia.Bagaimana rokok di keluarga Anda? (nrl/)


Berita Terkait