DetikNews
Selasa 14 November 2017, 14:39 WIB

PM Noor, Bapak Bangsa Asal Kalimantan yang Terlupakan

Sudrajat - detikNews
PM Noor, Bapak Bangsa Asal Kalimantan yang Terlupakan Fuad Hasyim
Jakarta -

Profesor Helius Sjamsuddin mengaku tak habis pikir dengan tak kunjung masuknya nama Pangeran Mohammad (PM) Noor sebagai kandidat pahlawan nasional tahun ini. Padahal nama gubernur pertama di Kalimantan (Borneo) itu sudah diajukan ke Kementerian Sosial sejak beberapa tahun lalu.

"Rekam jejak beliau itu sudah tak perlu diragukan lagi, beliau masuk kategori founding fathers," kata guru besar sejarah Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung itu saat dihubungi detikcom, Senin (13/11/2017).

Ia merujuk risalah sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan; Dokuritu Zyunbi Tyoosakai) 10 Juli 1945. Kala itu Ketua Sidang Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, sebelum acara sidang dimulai yang membahas bentuk negara yang akan didirikan, terlebih dahulu ia memperkenalkan enam anggota baru sebagai tambahan pada 62 anggota yang sudah ada.

Radjiman menyebut nama-nama dan menyilakan masing-masing berdiri di tempat sambil memperkenalkan diri. Di antara keenam anggota baru itu disebutkan namanya, "Tuan Mohammad Noor". Mohammad Noor ini juga pernah mewakili "Borneo" dalam Volksraad antara tahun 1931-1939.

"Salah satu andil PM Noor adalah menyokong bentuk negara kesatuan berbentuk republik, bukan federal. PM Noor juga turut serta berjuang lewat jalur militer dalam upaya menggagalkan pembentukan negara Borneo oleh Van Mook di tahun-tahun berikutnya," papar Helius Sjamsuddin.

Mengambil analogi sejarah modern Amerika, ia melanjutkan, mereka yang ikut menandatangani The First Continental Congress (1774), Declaration of Independence (1776), The American Revolution/The War of American Independence (1776-1783), dan Constitutional Convention (1787), lazim disebut "founding fathers", "nenek moyang" atau "para pendiri bangsa".

Selama Republik Indonesia hasil Proklamasi 1945 tegak berdiri sebagai negara-bangsa, para anggota BPUPKI, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), termasuk juga mereka yang mengorbankan jiwa dan raga untuk mempertahankan keutuhan negara dan bangsa pada awal-awal kemerdekaan adalah para founding fathers kita.

"Ir. H. P.M. Noor adalah termasuk di dalamnya, sejarah tidak bisa menghapus itu. Jangan lupakan fakta sejarah itu," papar lelaki asal Nusa Tenggara Barat yang menulis buku tentang Kerajaan Sintang, 1822-1942: perlawanan & perubahan di Kalimantan Barat itu.

Pengusulan nama PM Noor untuk menjadi pahlawan nasional antara lain disampaikan MUI Provinsi Kalimantan Selatan dan Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Kalsel pada 2014. Ketua DHN 45 Jenderal Tyasno Sudarto pun memberikan sokongan terhadap upaya menjadikan PM Noor sebagai pahlawan nasional. Seminar tentang kiprah kepahlawanannya pun telah digelar di beberapa kota dan kampus di Kalimantan Selatan waktu itu.

Surat Dewan Harian Nasional 45 (Dok. Keluarga)Surat Dewan Harian Nasional 45 (Dok. Keluarga) Foto: Dok. Keluarga



Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, Hartono Laras, yang menangani masalah kepahlawanan tak merespons pertanyaan detik.com yang disampaikan melalui WhatsApp. Begitu juga saat dihubungi melalui telepon.

Rio Noor, salah satu buyut Noor, yang dihubungi secara terpisah mengungkapkan bahwa kakek buyutnya itu lahir di Martapura, 24 Juni 1901 dari pasangan Pangeran Ali dan Ratu Intan binti Pangeran Kesuma Giri. Dalam silsilah keluarga, PM Noor berada dalam garis keturunan Pangeran Kesuma Giri, Pangeran Hidayat, Pangeran Noor, dan Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional, red).

Dicantumkan pula nama Sultan Adam dengan garis menurun dan menyamping ke nama Pangeran Noh, dengan jajaran garis menurun ke Pangeran Mohamad, Pangeran Ali, dan Pangeran Mohamad Noor.

PM Noor menghabiskan sebagian masa kecil di Amuntai, Kotabaru dan Banjarmasin. Dia menamatkan SD di Kotabaru dan Amuntai pada 1911. Melanjutkan ke HIS (Hollands Inlandse School) di Banjarmasin, klein ambtenaarsexamen, 1917. Lalu ke HBS (Hogere Burger School) Surabaya, eind examen tahun 1923, dan THS (Technisce Hooge School) Bandung, dengan ijazah Insinyur Sipil tahun 1927. Setahun sebelumnya, Sukarno meraih titel insinyur sipil dari perguruan tinggi yang sama.

PM Noor menikah dengan Gusti Aminah binti Gusti Mohamad Abi dan dikaruniai 11 anak. Ia mengembuskan nafas terakhir di RS Pelni Jakarta pada 15 Januari 1979, dan dimakamkan disamping makam istrinya di TPU Karet. "Sesuai wasiat beliau, pada 18 Juni 2010 kami pindahkan makamnya ke kompleks pemakaman Sultan Adam di Martapura (Kalimantan Selatan)," kata Firdauzy, salah seorang cucu PM Noor.


(jat/jat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed