52.693 Balita NTT Krisis Gizi
Rabu, 01 Jun 2005 12:13 WIB
Kupang - Jika Anda bisa makan dengan nasi, sayur, dan lauk seadanya, siang ini, syukurilah. Kondisi Anda lebih baik dibandingkan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai daerah miskin di Indonesia. Ribuan balita setempat pun menderita krisis gizi.Dari 463.370 balita, menurut hasil sensus 2005, yang dikategorikan kurang gizi sebanyak 43.402 balita. Gizi buruk diderita 9.237 balita dan 54 balita lainnya mengalami busung lapar (sebelumnya hanya 45-red). Sehingga total balita yang mengalami krisis gizi mencapai 52.693 balita.Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stef Bria Seran, yang dihubungi di Kupang, Rabu (1/6/2005) menegaskan, pemerintah harus bertanggung jawab terhadap permasalahan ini dan bukan hanya menyalahkan Dinas Kesehatan."Kalau terjadi krisis gizi maka semua pihak yang terlibat dalam urusan kesejahteraan masyarakat mesti turut bertanggung jawab. Pemerintah atau masyarakat tidak bisa menyalahkan Dinas Kesehatan karena ada keterkaitan erat antara berbagai sektor," bela Stef.Sedikitnya empat sektor terlibat langsung dalam urusan kesejahteraan yakni yang berhubungan dengan produksi pangan, distribusi pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan konsumsi masyarakat. Empat bidang ini punya keterkaitan satu sama lainnya."Anak-anak tidak dapat mengkonsumsi susu, protein dan makanan bergizi, bukan tanggungjawab kesehatan. Bidang lain yang harus bertanggung jawab. Karena masalah krisis gizi di NTT, punya kaitan dengan ketersediaan pangan dan ekonomi warga," katanya.Masalah krisis gizi ini sendiri, disebabkan oleh dua faktor, yakni apakah balita dan anak-anak kurang makan atau karena menderita penyakit tertentu dan tidak mau makan. Data terakhir yang dikeluarkan Dinas Kesehatan NTT menyebutkan, krisis gizi sudah terjadi merata di 16 kabupaten dan kota.Penderita busung lapar di delapan kabupaten dan kota yakni; Kabupaten Kupang 7 kasus, Kota Kupang 8 kasus, Timor Tengah Selatan 9 kasus, Timor Tengah Utara 22 kasus, Alor 3 kasus, Lembata 2 kasus dan Manggarai 2 kasus.Gizi buruk terbanyak di Timor Tengah Selatan dengan 2.285 kasus, Timor Tengah Utara 1.321 kasus, Sumba Barat 1.549 kasus, Belu 819 kasus, Flores Timur 707 kasus, Alor 665 kasus, Sumba Timur 342 kasus, Rote Ndao 631 kasus, Lembata 206 kasus, Kota Kupang 200 kasus, Manggarai Barat 222, Sikka 124 kasus dan Manggarai 116 kasus.Sementara penderita kurang gizi tersebar di sembilan kabupaten, meliputi Timor Tengah Selatan 11.368 kasus, Belu 9.492 kasus, Lembata 2405 kasus, Flores Timur, 5484 kasus, Sikka 616 kasus, Manggarai Barat 3703 kasus, Sumba Barat 6788 kasus, Sumba Timur 1882 kasus dan Rote Ndao 1664 kasus.
(nrl/)











































