DetikNews
Jumat 10 November 2017, 19:24 WIB

Cerita Heroiknya Ulama Jawa Timur Melawan Penjajah

- detikNews
Cerita Heroiknya Ulama Jawa Timur Melawan Penjajah HNW Kunjungi Museum Sumpah Pemuda/Foto: Pool/PKS
Jakarta - Mengenal Indonesia sebagai negara berdaulat adalah bagian dari kontribusi perjuangan para ulama dan santri. Selama masa perang kemerdekaan, peran para ahli agama ini tak bisa dipisahkan sebagai pengobar semangat para pejuang saat itu.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW) saat menyampaikan sosialisasi 4 Pilar MPR kepada ratusan anggota Badan Kontak Majelis Ta'lim di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (10/11/2017).

"Bahwa dalam konteks relasi Indonesia, sesungguhnya Indonesia adalah bagian dari perjuangan para ulama, kyai, dan pimpinan ormas baik dari NU maupun Muhammadiyah. Jadi sudah sangat wajar Islam ada di garis depan selamatkan Indonesia dari penjajahan lama dan penjajahan baru," kata HNW.

Menurutnya, representasi besarnya jasa perjuangan para ulama ini bisa dilihat dari penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Saat perang kemerdekaan, para ulama se-Jawa Timur kompak menggelorakan semangat jihad melawan penjajahan.

"Tanggal 22 Oktober itu Hari Santri Nasional. Mengapa? Karena 22 Oktober 1945 Belanda yang bonceng sekutu mau kuasai kembali Indonesia. Tapi para ulama di Jawa Timur dan Pulau Madura menyampaikan fatwa jihad pertahankan kemerdekaan Indonesia. Hukumnya fardu (wajib). Bagi yang jihad dia mati syahid, yang mengkhianati perjuangan boleh dihukum mati," ujar HNW.
Cerita Heroiknya Ulama Jawa Timur Melawan Penjajah Foto: Muhammad Idris/detikcom

Seruan para ulama itu, lanjutnya, yang membuat semangat pemuda bertempur melawan Inggris menggelora. Meski lebih banyak bersenjatakan bambu runcing, nyali para pejuang itu tak lantas ciut lantaran punya niat mulia.

"Tanggal 10 November bangkit para pemuda di Surabaya melakukan tindakan heroik. Itu adalah cara bagaimana para ulama selamatkan Indonesia," jelas HNW.

Sementara untuk semangat pahlawan di zaman seperti sekarang, kata dia, bisa diaplikasikan generasi masa kini dengan tidak hilang arah.

"Salah satu diantaranya meskipun kita di zaman now tapi jangan pernah lupa, bahwa kita bagian dari Indonesia. Salah satu kepahlawanan adalah tidak kehilangan jatidiri sebagai bangsa Indonesia meskipun kita di zaman now. Karena banyak orang kehilangan orientasi, kehilangan rujukan, kemudian lupa dengan Indonesia kita," terang HNW.

Jatidiri yang dimaksudnya yakni generasi muda yang tetap lebih cinta Indonesia meski beragam kebudayaan global deras masuk.

"Kita harus ingat para pahlawan bangsa, mereka juga termasuk orang-orang yang sangat berhubungan dengan dunia internasional. Mereka belajar di Belanda, mereka belajar bahasa asing banyak, mereka menguasai informasi amat sangat terbuka, tapi mereka tetap bangga dengan Indonesia. Spirit inilah yang saya rasa ini harus tetap hadir di generasi zaman now sebagai pahlawan," ujar HNW.

"Kemudian kegiatan yang spesifik dan serius untuk menyelamatkan Indonesia. Apakah itu menyelematkan Indonesia dari kerusakan lingkungan, kerusakan moral, kerusakan akibat dari korupsi, kerusakan akibat narkoba, berani melawan arus untuk kemudian tetap berprestasi tanpa narkoba, tanpa korupsi, tanpa kehilangan jatidiri suatu bangsa," imbuhnya.
(idr/ega)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed