Abdul Wahab, salah seorang veteran asal Kota Palembang, menceritakan perjuangannya setelah kemerdekaan. Di balik Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan di Jakarta, ternyata tidak dengan Kota Palembang.
Saat itu, Belanda tetap ingin menguasai Kota Pelambang hingga terjadi peperangan 5 hari 5 malam pada awal Januari 1947. Saat itu, pejuang dan tokoh masyarakat menolak keberadaan Belanda dan tetap melakukan perlawanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Abdul Wahab, yang masih berpangkat sersan mayor, bersama pejuang lain keukeuh melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata seadanya. Setiap lawan yang ada di depan mata tak luput dari tikaman dan timah panas yang mereka miliki.
"Kami hanya inginkan kemerdekaan, hidup atau mati kala itu kami harus tetap berjuang. Semua wilayah di Sumsel ini sudah kami lewati untuk mengusir penjajah, apa yang terlihat kami makan sampai akhirnya kami lemas," sambungnya.
Namun, saat mengingat keinginan untuk merdeka, dia kembali melanjutkan perjuangan. Di Prabumulih, teman sejawatnya berhasil menembak jatuh pesawat Belanda yang melintas dan berusaha menguasai Palembang sebagai pusat ibu kota Sumatera Selatan saat ini.
"Yang saya ingat kala itu, kami sebagai pejuang tidak butuh uang, kami tidak butuh harta, tapi kami butuh anak-cucu hidup merdeka. Kami harus siap hidup atau mati, yang penting kami tidak dijajah dan menjadi budak Belanda," sambungnya lagi.
Bukan hanya itu, tangisnya pecah saat harus berjuang dan melihat teman sejawatnya gugur di depan mata. Darah menembus baju perjuangan yang selama hidup akan tetap dia banggakan.
"Sampai mati saya bangga menjadi seorang pejuang. Dan film hari ini memberikan motivasi dan membuka ingatan pada kita bahwa untuk negara ini, semua rela kita korbankan. Salah satunya saat mengusir penjajah demi kemerdekaan dan menyebabkan beberapa pahlawan kita gugur di medan perang," sambungnya.
Matanya berkaca-kaca saat mengingat kembali masa penjajahan. Banyak tokoh nasional yang saat ini dikenal dalam buku sejarah perjuangan berguguran kala itu. Untuk itu, dia menilai sudah sewajarnya generasi muda berpikir kembali dan mengingat perjuangan para pahlawan bangsa ini.
"Sebelum kemerdekaan, itu ada masa kelam yang harus kami lalui hanya untuk satu kata, yaitu ingin merdeka. Perjuangan saat ini tidak sama, bahkan sangat jauh jika dibandingkan pada masa sebelum kemerdekaan dan generasi muda saat ini harus menjaga keutuhan NKRI, serta menjaga masuknya paham radikal dan moral yang tidak baik," tutur pria berusia 91 tahun ini.
Sementara itu, Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI AM Putranto mengatakan veteran merupakan bagian penting dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Jadi, dengan mengajak nonton bareng hari ini, hal itu akan membangkitkan semangat para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
"Kita ingin mengingatkan kembali memori para pejuang, bahwa mereka merupakan bagian dari orang-orang yang telah memerdekakan bangsa ini dari para penjajah. Walaupun di masanya dengan situasi yang berbeda, tapi kita yang akan mengisi dan melanjutkan perjuangan mereka," kata jenderal bintang dua ini.
"Saya selaku pangdam, kita berasal dari rakyat dan bersama rakyat kita kuat. Tanpa mereka, kita juga tidak ada apa-apanya dalam mengawal NKRI," tuturnya. (asp/asp)











































