ADVERTISEMENT

Laporan dari Vietnam

Presiden Jokowi Tiba di Vietnam, Hadiri KTT APEC 2017

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 10 Nov 2017 14:56 WIB
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Da Nang - Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) 2017 Vietnam. Dia mendarat di Da Nang, kota tempat berlangsungnya acara.

Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 yang membawa Jokowi tiba di Bandara Internasional Da Nang, Jumat (10/11/2017) pukul 14.13 waktu setempat. Sebelumnya, Jokowi berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul 10.35 WIB tadi.

Dia turun dari pesawat bersama istri, Iriana. Jokowi nampak mengenakan setelan jas berdasi merah, dan Iriana berbusana cokelat.

Dia disambut oleh pasukan Vietnam berseragam putih. Jokowi dan Iriana melalui karpet merah. Dia disambut oleh Menteri Informasi dan Media Vietnam Truong Ming Tuan. Nampak Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Ibnu Hadi turut menyambut.

Mobil Mercy hitam yang disediakan mengantar Jokowi, diikuti rombongan kepresidenan. Jokowi akan menginap di Hotel Furama yang beralamat di 105 Vo Nguyen Gyap, Ngu Hanh Son.


Sebagian pejabat Indonesia sudah ada di kota pesisir bagian tengah Vietnam ini. Antara lain Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wakil Meteri Luar Negeri AM Fachir, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thom Lembong.

APEC 2017 mengambil tema 'Menciptakan Dinamika Baru, Memelihara Masa Depan Bersama'. Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak Senin (6/11) lalu. Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita juga sudah berkegiatan di Danang.

Pada Jumat ini, digelar APEC CEO Summit, APEC Business Advisory Council (ABAC) dengan para pemimpin APEC, dan pembicaraan informal para pemimpin. Pada malam harinya, akan ada penyambutan resmi untuk para peminpin APEC dan istrinya.

Pada Sabtu (11/11) besok, akan ada pertemuan para pemimpin ekonomi APEC. Pada sore harinya, akan digelar konferensi pers terkait pertemuan itu.

Saat AS Ogah-ogahan, Indonesia Bersemangat untuk Pasar Bebas

Dewasa ini, Amerika Serikat (AS) cenderung ogah-ogahan dalam menjalankan perdagangan bebas. Negara yang identik dengan liberalisme ekonomi itu justru kian mengarah ke sikap proteksionis di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Sebelum APEC 2017 di Vietnam ini, ada Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) pasa Mei lalu. Sebelumnya, pada Januari 2017, Trump meneken keputusan menarik diri dari TPP.

Sementara itu, APEC tetap konsisten dengan ideologi pasar bebasnya, itu tak luntur meskipun gelaran APEC digelar di negara sosialis.

"Prioritas utama kami adalah menghasilkan momentum lebih lanjut dari integrasi ekonomi global dan pembaruannya, menegakkan peran utama dalam perdagangan dan liberalisasi investasi, dan memenuhi Bogor Goals untuk 2020," kata Presiden Republik Sosialis Vietnam, Tran Dai Quang, pada pembukaan APEC CEO Summit 2017, sebagaimana tercantum di keterangan pers.

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, AM Fachir, menyatakan Indonesia berharap forum ini bisa tetap menabalkan perdaganhan yang terbuka. "Kita berharap ini tetap mennadi kawasan yang terbuka dan bebas. Kedua, kita harus mewujudkan pertumbuhan yang inklusif. Ketiga, mengembangkan ekonomi yang inovatif sesuai dengan perkembangan teknologi," kata Fachir saat diwawancarai rombongan wartawan dari Indonesia di Danang, Vietnam, Kamis (9/11/2017).

Namun Indonesia juga ingin agar perdagangan bebas ini bisa memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia. Indonesia akan mengedepankan ranah maritim, membawa kepentingan petani, nelayan, dan usaha kecil dan menengah (UMKM). Juga, perlu ada pelatihan untuk pihak-pihak yang terkena dampak perkembangan teknologi informasi.

Soal sikap pemerintah AS yang menarik diri dari kerjasama-kerjasama sejenis, yakni kerjasama perdagangan bebas, Fachir menyatakan sikap berbeda seperti itu adalah hal yang lumrah. AS juga punya kepentingan melindungi ranah ekonomi domestiknya sendiri.

"Kan Bogor Goals untuk 'create open regionalism', kita menjaga komitmen itu. Kalau ada dinamika itu tergantung masing-masing ekonomi merespons. Itu karena kompetisi ya kompetisi, tidak bisa dihindari. Tapi diharapkan tetap terbuka dan bebas," ujar Fachir.

Sebagaimana ditulis di situs APEC, Bogor Goals diteken dalam pertemuan pemimpin di Bogor, Jawa Barat, pada 1994 lampau. Mereka berkomitmen untuk mewujudkan perdagangan serta investasi yang bebas dan terbuka pada 2010 untuk negara industri, dan target yang sama diterapkan tercapai pada 2020 untuk negara berkembang.

21 Anggota APEC sepakat untuk memangkas hambatan perdagangan dan mendorong aliran bebas komoditas, jasa, dan modal. Bogor Goals jadi manifestasi ambisius dan kepercayaan umum APEC, bahwa ekonomi pasar bebas untuk mewujudkan kesejahteraan. (dnu/tor)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT