Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, punya kenangan tersendiri bagi Mbah Patmo yang bernama lengkap Kasiah Supatmo itu. Meski kini berkursi roda, Mbah Patmo sudah di posisi baris paling depan menanti Presiden Jokowi memulai upacara yang diagendakan pukul 08.00 WIB, Jumat (10/11/2017).
"Saya dulunya juru rawat, ikut pendidikan kesehatan tanggal 1 Juli 1943," ucap Mbah Patmo lugas mengawali perbincangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Mbah Patmo menjadi juru rawat saat zaman perang. Fotografer: Bagus Prihantoro/detikcom |
Melihat semangatnya yang masih membara di usia senja, tentu terbayang bagaimana kiprah Mbah Patmo saat masih jadi juru rawat. Sesekali Mbah Patmo disambangi veteran yang menyalaminya. Ada juga yang beri hormat kepadanya.
Baca juga: Jelang Hari Pahlawan, TMP Kalibata Berbenah |
"Saya mulai bertugas di RS Majalaya jadi juru kesehatan, kemudian 23 Maret 1946 mendapatkan instruksi langsung dari Pangdam Siliwangi Kolonel Nasution," tutur Mbah Patmo.
Kolonel Nasution yang dimaksud adalah sosok Jenderal Abdul Haris Nasution. Ketika itu sebutannya adalah Panglima Divisi Siliwangi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). TKR di kemudian hari menjadi TNI.
Mbah Patmo waktu itu diperintahkan untuk mengawal warga Bandung Selatan mengungsi. Militer Inggris di tahun 1946 berencana membumihanguskan Bandung Selatan sehingga terjadilah peristiwa Bandung Lautan Api.
Mbah Patmo terus mendampingi warga saat pindah ke Ujungberung, Garut, hingga Yogyakarta dan Surabaya. Sorot matanya memandang ke langit saat bercerita.
"Namanya juga gerilya. Kalau dulu disebutnya long march," kata dia.
Dia mengenang lagi ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1945. Waktu itu senang tak terbendung dia rasakan. Dada gemetar, kata dia.
"Senang ya, otomatis. Tuhan kemudian menghendaki saya jadi tentara, jadi sampai sekarang saya bisa seperti ini," ungkap Mbah Patmo.
Dia mengenang lagi ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1945. Fotografer: Bagus Prihantoro/detikcom |
Kehadiran Mbah Patmo ke TMP Kalibata sebetulnya bukan semata untuk mengikuti upacara bersama Presiden Jokowi. Suami Mbah Patmo, Supatmo Hadisiswoyo, juga dimakamkan di sini.
"Makamnya ada di sebelah DI Pandjaitan. Suami saya dulunya ajudan jenderal berpangkat Peltu," kata Mbah Patmo.
Mbah Patmo kemudian menatap ke arah patung Garuda Pancasila di TMP Kalibata. Mengenang kembali masa-masa merebut hingga mempertahankan kemerdekaan RI.
(bpn/aan)












































Foto: Mbah Patmo menjadi juru rawat saat zaman perang. Fotografer: Bagus Prihantoro/detikcom
Dia mengenang lagi ketika Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1945. Fotografer: Bagus Prihantoro/detikcom